Mensos Cabut 600.000 Penerima Bansos Terlibat Judi Online, 200.000 Ajukan Reaktivasi

2026-01-17 06:33:53
Mensos Cabut 600.000 Penerima Bansos Terlibat Judi Online, 200.000 Ajukan Reaktivasi
SEMARANG, – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mencabut sekitar 600.000 penerima bantuan sosial (bansos) di Indonesia karena terbukti bermain judi online (judol).Namun, 200.000 di antaranya kini mengajukan reaktivasi bansos."Saya sudah sampaikan berulang-ulang, ada 600.000 lebih (penerima bansos terlibat judol). 200.000 itu kemarin mengusulkan untuk reaktivasi karena hasil ground check-nya mungkin dinyatakan memenuhi syarat untuk menerima bansos," kata Gus Ipul usai menghadiri rapat koordinasi pengelolaan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) di Kompleks Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Selasa .Dia menjelaskan bahwa 200.000 penerima bansos yang sempat dicoret akibat bermain judol kini mengajukan reaktivasi.Baca juga: 1,9 Juta KPM Tidak Layak Terima Bansos, Mensos: Ada yang Dapat hingga 18 TahunKementerian Sosial (Kemensos) pun sedang melakukan verifikasi ulang untuk memastikan siapa yang layak kembali menerima bansos."Tapi yang sudah bisa dikatakan diterima itu lebih dari 70.000," ungkapnya.Gus Ipul mengungkap temuan ratusan ribu penerima bansos yang bermain judol berdasarkan data sinergi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)."Kami ke PPATK, ternyata penerima bansos main judol juga, (jumlahnya) 600.000. Ada yang mengaku sebagai pegawai BUMN, ASN, TNI/Polri. Itu semua mulai terbuka pelan-pelan," ungkapnya.Selain itu, Mensos menyoroti temuan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang mencatat 45 persen penerima bansos tidak memenuhi syarat atau tidak tepat sasaran."Kami, dengan pendamping, dengan petugas BPS, dengan pemda, melakukan ground check. Sudah ada 12 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang kita ground check. Dari 12 juta itu, ada 1,9 juta yang dinyatakan tidak layak menerima bansos," katanya.Pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dinilai penting untuk memastikan penyaluran bansos tepat sasaran dan mencegah penyalahgunaan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-17 04:43