Sepanjang 2025, Bencana Iklim Sebabkan Kerugian hingga Rp 1.800 Triliun

2026-01-17 06:11:52
Sepanjang 2025, Bencana Iklim Sebabkan Kerugian hingga Rp 1.800 Triliun
- Laporan terbaru Christian Aid berjudul Counting the Cost 2025: A year of climate breakdown, mengungkapkan kerugian akibat bencana iklim global sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 120 miliar dollar AS atau setara lebih dari Rp 1.800 triliun.Peneliti menyebutkan, angka tersebut menandai 2025 sebagai salah satu tahun dengan biaya iklim tertinggi.CEO Christian Aid, Patrick Watt menilai bencana tersebut sebagai peringatan karena berbagai negara tak juga menghentikan bahan bakar fosil dan bertransisi ke energi terbarukan.“Bencana ini juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk adaptasi, khususnya di negara-negara Selatan, di mana sumber daya terbatas dan masyarakat sangat rentan terhadap guncangan iklim,” ujar Watt dalam keterangannya, Senin .Baca juga: Anomali Iklim di Indonesia Bikin Badai Tropis Makin Sering, Ini Penjelasan BRINDia mencatat, peringkat pertama bencana dengan kerugian tertinggi yakni kebakaran California, Amerika Serikat mencapai 60 miliar dollar AS lalu menyebabkan kematian lebih dari 400 orang.Kedua, siklon dan banjir yang melanda Asia Tenggara pada November 2025, dengan kerugian 25 miliar dollar AS dan menewaskan lebih dari 1.750 orang di Thailand, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, serta Malaysia.Banjir musiman China menyebabkan kerugian hingga 11,7 miliar dollar AS, menewaskan 30 orang. Selanjutnya, angin topan melissa di Jamaika, Kuba, dan Bahama pada pertengahan hingga akhir 2025, dengan kerugian 8 miliar dollar AS dan angka kematian yang belum selesai dihitung.Kerugian akibat banjir di India dan Pakistan pada Juni-September mencapai 5,6 miliar dollar AS dan menyebabkan lebih dari 1.860 kematian. Topan di Filipina pada pertengahan tahun sampai November, kerugian ekonominya mencapai 5 miliar dollar AS dan ratusan kematian.Kekeringan di Brazil pada Januari-Juni, dengan kerugian 4,75 miliar dollar AS.Lalu, Siklon Tropis Alfred di Australia pada Februari dengan kerugian US$1,2 miliar dan satu korban jiwa. Siklon Garance di Réunion, Afrika Timur, pada Februari dengan kerugian 1,5 miliar dollar dengan lima kematian, serta Banjir Texas, Amerika Serikat pada Juli dengan kerugian 1 miliar dollar AS dan lebih dari 135 kematian.Baca juga: Greenpeace Sebut Banjir Sumatera akibat Deforestasi dan Krisis IklimSelain kerugian, wilayah-wilayah yang terhantam bencana juga mesti menanggung biaya rekonstruksi. Membenahi kerusakan akibat banjir parah di Sumatera, misalnya, dibutuhkan pendanaan di atas 3 miliar dollar AS, sementara di Sri Lanka mencapai 6-7 miliar dollar.“Tahun ini mengungkapkan kenyataan brutal perubahan iklim. Sementara negara-negara kaya menghitung kerugian finansial akibat bencana, jutaan orang di seluruh Afrika, Asia, dan Karibia menghitung nyawa, rumah, dan masa depan yang hilang," jelas Direktur Power Shift Africa, Mohamed Adow.Pada 2026, lanjut dia, pemerintah harus berhenti menutup mata dan mulai menanggapi dengan dukungan nyata bagi masyarakat melalui peningkatan pendanaan bagi mereka yang membutuhkan. Lainnya, memangkas emisi karbon.Laporan Christian Aid menekankan, bencana-bencana ini bukan kejadian alami. Di California, perubahan iklim meningkatkan 35 persen kemungkinan kondisi cuaca kebakaran ekstrem.Menurut para ilmuwan, perubahan iklim turut memengarubu intensnya badai dj Asia Tenggara. Sehingga curah hujan melonjak, dan menyebabkan banjir mematikan. Dampak lainnya, meningkatkan kemungkinan terjadinya topan dengan intensitas seperti Topan Ragasa.Joanna Haigh selaku Profesor Emeritus Fisika Atmosfer Imperial College London, menyatakan bahwa negara-negara global saat ini harus membayar harga yang makin tinggi untuk krisis iklim."Bencana-bencana ini bukanlah bencana alam, melainkan akibat tak terhindarkan dari perluasan bahan bakar fosil dan penundaan keputusan politik. Meskipun biayanya mencapai miliaran, beban terberat jatuh pada komunitas dengan sumber daya paling sedikit untuk pulih," kata Haigh.Apabila pemerintah bertindak sekarang untuk mengurangi emisi dan mendanai langkah-langkah adaptasi iklim, maka penderitaan itu akan terus berlanjut.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Meski membawa teknologi kamera baru, rumor menyebut jumlah kamera belakang Xiaomi 17 Ultra justru dipangkas menjadi tiga, dari sebelumnya empat kamera pada Xiaomi 15 Ultra.Selain sensor 200 MP, ponsel ini diperkirakan mengusung kamera utama 50 MP serta kamera ultrawide 50 MP.Xiaomi juga dirumorkan bakal menjadi produsen pertama yang menghadirkan Leica APO zoom camera di ponsel. Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan warna lebih akurat, detail lebih tinggi, serta performa makro yang lebih baik, termasuk dalam kondisi cahaya rendah.Di luar sektor kamera, Xiaomi 17 Ultra diperkirakan akan ditenagai chipset tercanggih Qualcomm saat ini, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5. Chipset tersebut bakal dipadukan dengan layar OLED berukuran 6,85 inci yang mendukung resolusi tinggi dan refresh rate tinggi.Baca juga: HP Xiaomi Redmi Note 15 Series Meluncur Global, Ini SpesifikasinyaDari sisi daya, ponsel ini dirumorkan mengusung baterai berkapasitas 7.000 mAh, meningkat dari 6.000 mAh pada generasi sebelumnya, dengan dukungan pengisian cepat hingga 100 watt.Soal desain, Xiaomi 17 Ultra disebut tidak banyak berubah dari pendahulunya. Ponsel ini dikabarkan tetap mengusung layar datar tanpa tepi melengkung, serta dilengkapi pemindai sidik jari ultrasonik di bawah layar untuk menunjang keamanan.Setelah debut di China pada pekan depan, Xiaomi 17 Ultra diyakini akan meluncur ke pasar global pada kuartal pertama atau sekitar bulan Januari-Maret 2026, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Android Headlines.

| 2026-01-17 05:09