Tiwul Goreng Pak Rus, Kuliner Legendaris 25 Tahun di Telaga Ngebel

2026-01-12 04:08:54
Tiwul Goreng Pak Rus, Kuliner Legendaris 25 Tahun di Telaga Ngebel
PONOROGO, – Asap tipis mengepul dari wajan besi di tepi Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.Di balik wajan itu, Ruslan atau akrab disapa Rus berdiri tenang mengaduk tiwul goreng, menu tradisional yang telah ia jual selama 25 tahun terakhir.Sejak pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB, Rus setia menjaga cita rasa kuliner berbahan singkong ini. Di tengah menjamurnya makanan modern, ia tetap bertahan mengandalkan kepercayaan pelanggan yang datang silih berganti.“Yang penting konsistensi. Rasa jangan berubah,” ucap Rus sambil menyiapkan pesanan, Minggu .Baca juga: Eksistensi Makanan Khas Tiwul yang Ramai di Kota dan DesaTiwul goreng buatan Rus memiliki keunikan tersendiri. Jika biasanya tiwul dimakan sebagai pengganti nasi dengan urap, di sini tiwul diolah layaknya nasi goreng dengan bumbu bawang merah, bawang putih, dan cabai.“Sama dengan nasi goreng, bedanya nasinya diganti tiwul. Untuk topingnya juga sama, ada telur atau ayam suwir,” jelasnya.Menariknya, tiwul goreng ini sering menjadi incaran wisatawan yang sedang menjalani diet atau menjaga kadar gula darah.Pasalnya, tiwul memiliki serat lebih tinggi dan indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih.“Biasanya ibu-ibu yang diet memilih menu tiwul goreng ini dibandingkan nasi goreng di sini,” kata Rus.Baca juga: Mengenal Tiwul, Makanan Khas Gunungkidul Pengganti Beras, Kini Jadi Menu DietKOMPAS.COM/SUKOCO Keindahan telaga ngebel di kaki Gunung Wilis Kabupaten Ponorogo. Selain menawarkan keindahan alam dan telaga dengan hawa sejuk, ada kuliner tiwul goreng yang merupakan menu khas KabupatenPonorogo.Dalam sehari, Rus mampu menyajikan lebih dari 70 porsi makanan, termasuk mi dan nasi goreng. Khusus untuk tiwul goreng, rata-rata laku 10 hingga 20 porsi per hari. Harganya pun sangat ramah di kantong, yakni Rp 10.000 per porsi.“Harganya ramah pengunjung saja karena kebanyakan yang mampir ke lapak saya wisatawan lokal. Kopi juga hanya Rp 3.000,” tuturnya.Keberadaan lapak Rus memberikan kesan mendalam bagi wisatawan, seperti Candra asal Ngawi. Ia mengaku hampir selalu memesan tiwul goreng setiap berkunjung ke Ngebel karena menu tersebut jarang ditemui di daerah lain.Bagi Rus, berjualan bukan sekadar mencari nafkah, melainkan cara menjaga warisan kuliner tradisional agar tidak tergerus zaman.Di tepi telaga yang tenang, ia terus merawat tradisi lewat setiap porsi tiwul goreng yang ia sajikan.


(prf/ega)