Terjebak Banjir dan Longsor, Walkot Sibolga 2 Hari Tak Ada Kabar

2026-01-17 03:41:53
Terjebak Banjir dan Longsor, Walkot Sibolga 2 Hari Tak Ada Kabar
Ketua DPP NasDem teritori Aceh Bakhtiar Ahmad Sibarani mengaku tidak dapat berkomunikasi dengan Wali Kota Sibolga Akhmad Syukri Nazri Penarik. Syukri terakhir kali berkabar terjebak di Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah, Selasa lalu."Kami informasikan keberadaan Wali Kota itu, Senin (24/11) malam, dia dapat kabar ada curah tinggi di Sibolga dan dia yang sedang berkegiatan di Medan langsung pulang menuju Sibolga," sebut Bakhtiar, dilansir detikSumut, Kamis (27/11/2025).Bakhtiar kemudian menghubungi Syukri pada Selasa (25/11) pagi tapi tidak direspons. Setelah itu, kata Bakhtiar, Syukri mengirimkan pesan WhatsApp yang berisi soal dirinya terjebak di wilayah Sitahuis."Dia mengirim pesan soal kondisi yang terjebak di Sitahuis, dan tidak ada jaringan di sana," sebut Bakhtiar.Dari tangkapan layar dikirimkan Bakhtiar, Syukri terakhir kali mengirimkan pesan pada Selasa pukul 11.10 WIB. Di situlah dia menyampaikan kabar soal keberadaannya.Syukri tidak dapat menuju Sibolga karena banjir dan longsor. Dia juga tidak bisa balik ke arah Tapanuli Utara karena banjir dan longsor juga terjadi.Bakhtiar pun berharap agar kondisi Syukri baik-baik saja. "Itu informasi mengenai wali kota. Semoga semuanya baik-baik saja warga di Sibolga maupun Tapanuli Tengah," ungkapnya.Baca selengkapnya di siniLihat juga Video Tim SAR Evakuasi Warga Terdampak Banjir-Longsor di Sibolga-Tapteng[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-17 01:43