Aceh Utara Butuh Ribuan Relawan Kesehatan

2026-01-16 20:49:54
Aceh Utara Butuh Ribuan Relawan Kesehatan
ACEH UTARA, - Sebulan lebih pascabanjir kondisi Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh masih memprihatinkan.Hal itu terungkap dalam rapat evaluasi tanggap darurat di pendopo Bupati Aceh Utara, Selasa (30/12025).Camat Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Fauzi Saputra menyebutkan baru 30 persen layanan kesehatan menyentuh pengungsi korban banjir.Di kecamatan itu terdapat 54 titik pengungsian.“Kita butuh ribuan relawan kesehatan untuk menjangkau semua pengungsi. Sekarang ini dilakukan bergantian dari posko ke posko,” kata Fauzi dalam rapat itu.Baca juga: Bupati Ayahwa ke Mendagri: Korban Jiwa Aceh Utara Terbesar di Banjir SumateraSelain itu, masih ada korban jiwa belum ditemukan.“Masih ada warga yang dilaporkan hilang belum ditemukan. Data seluruh Aceh Utara enam orang, sebagian warga kami,” sebutnya.Sedangkan Camat Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Mazinuddin menyebutkan akses jalan dan jembatan terputus menyulitkan distribusi bantuan.“Misalnya Desa Gunci, harus pakai rakit menyeberang sungai,” terangnya.Baca juga: Tinjau Lokasi Banjir Aceh Utara, Mendagri Tito Karnavian Soroti Pohon-Pohon yang Tercabut AkarnyaSisi lain, dia menyoroti butuh ribuan tenda untuk pengungsi.Namun yang baru didistribusikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hanya 200 unit di kecamatan.Di kecamatan itu, tersisa 33 titik pengungsian.“Jadi kami harap BNPB atau Kementerian Sosial agar bisa mendistribusikan bantuan tenda keluarga. Agar satu kepala keluarga bisa mendapatkan satu tenda,” pungkasnya.Baca juga: Bupati Indramayu Lucky Hakim Kirim 400 Al Quran untuk Korban Bencana Aceh TamiangSekadar diketahui, banjir terjadi pada 26 November 2025 mengakibatkan puluhan sekolah rusak dan ratusan pelajar mengungsi di Kabupaten Aceh Utara.Mereka diliburkan sebulan lebih dan akan memulai pembelajaran pada 5 Januari 2026 mendatang.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-16 20:23