Mata Tirtha Aausi, Hari Ibu di Nepal yang Bercampur dengan Budaya

2026-01-16 12:04:53
Mata Tirtha Aausi, Hari Ibu di Nepal yang Bercampur dengan Budaya
- Setiap negara memiliki tradisi masing-masing dalam merayakan Hari Ibu. Ada yang melakukan ziarah kubur seperti di Peru, ada pula menggelar festival tiga hari seperti di Etiopia.Nepal, salah satu negara di Asia Selatan, juga punya tradisi yang unik untuk merayakan Hari Ibu. Mereka menggelar sebuah festival Hindu tradisional bernama Mata Tirtha Aausi.Dikutip dari Nepal Tourism Board, Senin , Mata Tirtha Aausi adalah festival yang didedikasikan untuk menghormati dan mengenang para ibu.Nama festival ini terdiri dari kata “Mata” yang berarti ibu, “Tirtha” yang berarti tempat ziarah suci, dan “Aausi” yang berarti hari bulan baru. Secara kolektif, “Mata Tirtha Aausi” melambangkan hari suci untuk menghormati para ibu di tempat ziarah.Festival Mata Tirtha Aausi dirayakan dengan pengabdian spiritual yang mendalam, dan penghormatan budaya di seluruh Nepal.Baca juga: 5 Negara dengan Perayaan Hari Ibu yang Unikdok. Nepal Tourism Board Perayaan Hari Ibu di Nepal melalui Festival Mata Tirtha Aausi.Latar belakang dan makna dari festival ini terletak pada dimensi spiritual dan budayanya.Secara spiritual, Festival Mata Tirtha Aausi melambangkan kasih ibu tanpa syarat, pengorbanan, dan ikatan abadi antara seorang ibu dan anaknya.Ini adalah hari yang didedikasikan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada para ibu yang masih hidup, dan memanjatkan doa untuk mereka yang telah meninggal.Secara budaya, dalam masyarakat Nepal, ibu dianggap sebagai figur suci. Festival ini memperkuat rasa hormat dan penghargaan yang mendalam terhadap peran yang dipegang oleh ibu sebagai fondasi penting kehidupan.Baca juga: Bingung Tulis Caption Hari Ibu? Ini 5 Prompt AI yang Bisa Kamu CobaRitual dan tradisi Mata Tirtha Aausi sangatlah kaya dan bermakna. Salah satu ritual utama melibatkan ziarah ke kolam Mata Tirtha yang sakral. Lokasinya berada di Kota Chandragiri, di barat daya Kathmandu.Di tempat ini, para penganut agama Hindu melakukan ritual mandi, serta mempersembahkan air, susu, dan bunga. Lalu, mereka melakukan upacara keagamaan untuk mengenang ibu mereka.Baca juga: 11 Ide Kado untuk Hari Ibu, Personal dan Berkesan Sepanjang Waktudok. Nepal Tourism Board Perayaan Hari Ibu di Nepal melalui Festival Mata Tirtha Aausi.Mandi dan berdoa di kolam Mata Tirtha dipercaya dapat menjamin kedamaian bagi jiwa ibu, dan membawa berkah bagi orang-orang yang melakukan ritual ini.Di rumah, keluarga menghormati ibu yang masih hidup dengan memberikan mereka kudapan manis, baju baru, dan hadiah. Sering kali, pemberian disertai dengan makanan khusus dan ritual kecil.Hari Raya Ibu di Nepal menjadi perayaan yang mengharukan bagi seluruh keluarga. Mereka berkumpul dan mengungkapkan rasa cinta dan hormat mereka.Baca juga: Sejarah Hari Ibu 22 Desember di Indonesia, Bermula dari Kongres Perempuan 1928Menurut kepercayaan mitologis, asal mula Mata Tirtha Aausi berakar paad cerita rakyat populer. Konon, seorang penggembala sapi melihat bayangan ibunya yang sudah meninggal di kolam Mata Tirtha, saat sedang berdoa.Sejak saat itu, diyakini bahwa doa dan persembahan di kolam Mata Tirtha di hari yang spesial ini, menciptakan hubungan suci antara mereka yang masih hidup dengan ibu yang sudah meninggal.Hubungan yang suci ini membawa kedamaian bagi jiwa para ibu yang sudah meninggal, dan berkah bagi mereka yang mengenang para ibu dengan penuh kesetiaan.Baca juga: Merasa Sedih Sekaligus Bahagia, Kompleksnya Perasaan Seorang Ibu


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-16 11:51