Mengapa Kita Percaya Kebohongan Terutama dari Teman? Ini Kata Sains

2026-01-12 06:47:54
Mengapa Kita Percaya Kebohongan Terutama dari Teman? Ini Kata Sains
- Mengapa seseorang bisa percaya kebohongan?Ilmuwan mengatakan, jawabannya mungkin terletak pada cara otak kita memproses koneksi sosial dan janji imbalan.Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Yingjie Liu dari North China University of Science and Technology menunjukkan bahwa kemauan kita untuk menerima informasi palsu sangat bergantung pada apa yang dikatakan dan siapa yang mengatakannya.Melalui pemindaian otak, studi ini berhasil mengungkap bahwa kepercayaan, ikatan emosional, dan potensi keuntungan memainkan peran penting dalam menentukan apakah kita menerima atau menolak kebohongan, terutama jika kebohongan itu berasal dari orang yang kita anggap teman.Baca juga: Mengapa Kita Menguap? Ternyata Bukan karena Butuh OksigenTim peneliti menggunakan teknologi neuroimaging untuk mempelajari 66 partisipan sehat.Para partisipan berinteraksi melalui layar komputer. Interaksi tersebut menghasilkan dua konteks:Rui Huang, salah satu penulis studi, menjelaskan mengapa kedua konteks ini berpengaruh."Alasan utama kami memilih konteks 'keuntungan' dan 'kerugian' adalah karena hal itu menggambarkan bagaimana orang menyesuaikan pengambilan keputusan dalam menanggapi potensi imbalan atau hukuman," kata Huang.Hasil studi yang dipublikasikan dalam jurnal JNeurosci menunjukkan bahwa partisipan lebih sering percaya kebohongan dalam konteks "keuntungan".Hal ini ternyata terkait dengan peningkatan aktivitas di wilayah otak yang terlibat dalam evaluasi risiko, imbalan, dan pemahaman niat.Temuan paling menarik terjadi ketika kebohongan diucapkan oleh seorang teman.Dalam kasus ini, para peneliti menemukan adanya aktivitas otak bersama yang bervariasi berdasarkan konteks antara dua orang yang berteman.Baca juga: Mengapa Pria Lebih Tinggi Dibanding Wanita? Studi JelaskanYang luar biasa, para peneliti bahkan dapat menggunakan aktivitas otak bersama ini untuk memprediksi apakah seseorang akan berhasil ditipu oleh temannya.Menurut para peneliti, temuan ini mengisyaratkan bahwa orang cenderung lebih mudah percaya kebohongan ketika kebohongan tersebut menjanjikan potensi "keuntungan".Hal ini menunjukkan bahwa pemrosesan informasi sosial, terutama antara teman, mungkin membuat evaluasi kebenaran menjadi kurang akurat."Pekerjaan ini menunjukkan bahwa orang mungkin lebih cenderung percaya kebohongan ketika mereka menjanjikan potensi 'keuntungan' dan menunjuk pada aktivitas otak yang terlibat dalam pemrosesan informasi sosial antara teman yang dapat membuat evaluasi kebenaran menjadi kurang akurat," simpul para peneliti.


(prf/ega)