Menkes Sebut Angka Stunting Turun 20 Persen, Pertama Kali dalam Sejarah

2026-01-12 04:38:06
Menkes Sebut Angka Stunting Turun 20 Persen, Pertama Kali dalam Sejarah
JAKARTA, - Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengeklaim bahwa prevalensi stunting balita di Indonesia turun di bawah 20 persen, yakni mencapai 19,8 persen, sebagai capaian pertama kali dalam sejarah Indonesia."Untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa Indonesia, prevalensi stunting balita turun di bawah 20 persen mencapai angka 19,8 persen," ucap Budi dalam agenda Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 yang digelar di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu .Baca juga: Momen Gibran Ajak Kepala Daerah Dialog Tukar Cerita soal Penanganan StuntingBudi juga menyampaikan bahwa sebanyak 8.349 puskesmas di Indonesia telah menerapkan program integrasi layanan primer."324.000 Lebih kader kesehatan di seluruh posyandu telah dilatih dengan 25 keterampilan dasar," kata dia.Menurutnya, sistem surveilans penyakit kini sudah lebih cepat dan terintegrasi dengan peningkatan kapasitas laboratorium kesehatan masyarakat yang akan terus dikembangkan di seluruh provinsi dan 514 kabupaten/kota.Baca juga: Gibran: Angka Stunting Turun Jadi 19,8 Persen di 2024Percepatan dilakukan untuk meningkatkan mutu layanan rumah sakit dengan program pengampuan penyakit prioritas utama, yaitu kanker, jantung, stroke, ginjal, dan ibu dan anak."Saat ini, 29 provinsi sudah mampu melakukan operasi bedah jantung terbuka, 29 provinsi sudah mampu melakukan clipping aneurisma, dan 8 provinsi sudah mampu melakukan bypass otak," kata Budi.Budi melanjutkan, teknologi-teknologi kesehatan digital seperti X-ray, CT scan, dan MRI juga sudah bisa masuk ke dalam database pemerintah."Bisa kita lakukan analisis mempergunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas dari analisis data-data tersebut," ucapnya.Saat ini, kata Budi, sebanyak 268 juta penduduk atau hampir 100 persen telah dijangkau oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)."Porsi asuransi dalam belanja kesehatan yang setiap tahunnya mencapai Rp 640 triliun telah meningkat pesat, menunjukkan masyarakat terlindungi secara finansial kalau ada kejadian kesehatan yang fatal bagi mereka," tuturnya.Ia menyebut, capaian tersebut menjadi bukti bahwa sistem kesehatan Indonesia terus berkembang menuju pelayanan yang lebih merata.


(prf/ega)