Solar Langka Tiap Akhir Tahun, Pengusaha Truk Akui Operasional Terganggu

2026-01-12 23:27:51
Solar Langka Tiap Akhir Tahun, Pengusaha Truk Akui Operasional Terganggu
SOLO, - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar kembali dirasakan para pengusaha angkutan barang di sejumlah wilayah menjelang akhir tahun.Fenomena ini bukan hal baru, karena hampir setiap akhir tahun, stok biosolar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mulai menipis dan membuat operasional truk terganggu.Bambang Widjanarko, Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan DIY mengatakan, kelangkaan solar bersubsidi yang terjadi setiap akhir tahun selalu menjadi persoalan serius bagi pelaku usaha angkutan barang.Baca juga: Konsekuensi Beli Mobil Diesel ModernMenurutnya, situasi ini bukan hanya mengganggu aktivitas operasional harian, tetapi juga berdampak langsung pada keterlambatan distribusi barang dan meningkatnya beban biaya logistik.“Sangat (menggangu), tiap menjelang akhir tahun,” kata Bambang kepada Kompas.com, Selasa ./Mega Silvia Antrean biosolar di SPBU Kalisat, Jember pada Minggu sore .Bambang juga mengatakan, jika mengganti bahan bakar ke solar nonsubsidi bukan pilihan yang realistis bagi pelaku usaha.“Gak mungkin. Kan basis nego harga dengan Customer semua dengan Biosolar. Kecuali pemerintah mengumumkan kenaikan harga Biosolar, nah baru pengusaha truk bisa mengajukan kenaikan ongkos muat,” ucapnya.Ketika ditanya apakah pengusaha bisa beralih menggunakan solar nonsubsidi, Bambang mengakui bahwa opsi tersebut sebenarnya ada, namun tidak realistis secara ekonomi.“Ada (solar nonsubsidi), tapi jika kita gunakan BBM nonsubsidi kan ongkos muatnya tidak masuk, malah bisa rugi,” kata Bambang.Akibat kelangkaan solar tersebut, distribusi barang menjadi terganggu. Sebagian pengiriman bahkan harus dijadwalkan ulang karena sejumlah armada tidak bisa beroperasi akibat sulitnya mendapatkan pasokan BBM di SPBU.Baca juga: Ford Bakal Siapkan Area Test Drive Off-Road di GJAW 2025“Mau gak mau menunggu sampai ada lagi di SPBU. Kejadian seperti ini kan sudah tahunan, jadi setiap Oktober hingga Desember ya kami sudah siap,” katanya.Bambang menambahkan, kelangkaan solar memang menyebabkan keterlambatan pengiriman, meski tidak separah gangguan akibat bencana alam.“Ada keterlambatan, tapi tidak seperti kena banjir,” katanyaIa mengatakan, keluhan terkait sulitnya pasokan solar juga sudah pernah disampaikan kepada perwakilan Pertamina, baik melalui sambungan telepon maupun forum diskusi kelompok (FGD).Namun, hingga kini belum ada solusi yang benar-benar mencapai akar permasalahan ini.“Belum pernah ada yang merespons to the point, dicatat dan semuanya nanti akan dibicarakan dulu,” katanya.Bahkan, ketika diminta pendapatnya mengenai solusi agar kelangkaan solar tidak terus berulang, Bambang mengatakan, bahwa persoalan ini berakar dari ketidakseimbangan antara kuota subsidi dan kebutuhan di lapangan.“Kayaknya memang subsidinya tidak mencukupi sesuai kebutuhan. Jadi, solusinya ya batalkan saja subsidinya, tapi barangnya harus terjamin selalu ada,” katanya.


(prf/ega)