Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Psikolog Jelaskan Pengaruh "Game Online" ke Perilaku

2026-02-02 06:20:52
Kasus Anak Bunuh Ibu di Medan, Psikolog Jelaskan Pengaruh
- Baru-baru ini di Medan, Sumatera Utara, terjadi kasus di mana seorang anak (12) melukai ibunya menggunakan pisau sehingga berujung meninggal dunia.Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu lalu. Sang anak bangun dan mengambil pisau dari dapur, kemudian melukai ibunya yang sedang tertidur.Baca juga: Bukan “Game”, Pelaku Ledakan SMAN 72 Terlibat Dark Web dan Komunitas KekerasanKapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak, Senin , menyampaikan salah satu motif tindakan tersebut adalah sakit hati karena sang ibu menghapus game online.Selain itu, sang anak juga disebut sering kali memainkan game online yang menggunakan pisau dan menonton serial anime yang menampilkan pisau.Berkaca dari kasus tersebut, ternyata game online memiliki pengaruh terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan pemainnya.Baca juga: Anak Bunuh Ibu di Medan akibat Game Online, Ini Kata PsikologPsikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, mengatakan bahwa game online (terutama yang mengandung kekerasan) memiliki pengaruh terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan anak.“Ya, namun tidak secara otomatis atau linier,” kata Danti saat dihubungi Kompas.com, Selasa .“Penelitian psikologi menunjukkan bahwa paparan konten kekerasan yang intens dapat memengaruhi kognisi dan emosi, tetapi efeknya berbeda-beda pada setiap anak,” sambungnya.Baca juga: Apa Itu Game Roblox dan Mengapa Dilarang untuk Anak-anak?Lebih lanjut, Danti menjelaskan, game (dalam kasus yang terjadi di Medan) berperan sebagai pemicu (trigger) dan penyedia model perilaku.“Namun ada faktor kerentanan lain (seperti kematangan emosi, adiksi, dan kemungkinan masalah kesehatan mental yang tidak terdeteksi) yang membuat tragedi ini terjadi,” ujar Danti./BAGUS PUJI PANUNTUN Ilustrasi bermain game online. Pengaruh game online terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan anak.Danti juga menjelaskan beberapa pengaruh yang diakibatkan oleh game online terhadap perilaku anak, mencakup:Danti menyebut, paparan kekerasan berulang dalam game (seperti menggunakan pisau) dapat membuat anak merasa bahwa kekerasan adalah hal yang biasa, wajar, atau bahkan solusi yang efektif.Kondisi tersebut membuat rasa empati terhadap rasa sakit orang lain bisa terkikis secara perlahan.Baca juga: Bocah 9 Tahun Bakar 13 Rumah di Sukabumi, Terinspirasi Game Online dan FilmAdegan kekerasan dalam game "menyiapkan" otak untuk merespons situasi stres dengan cara yang agresif.Ketika anak merasa terancam atau marah (misalnya saat game-nya dihapus), memori atau skema perilaku kekerasan dari game tersebut lebih mudah muncul di kepalanya.Berbeda dengan menonton film, dalam game anak adalah "pelaku" atau memiliki peran sebagai tokoh utama.Ia yang mengendalikan senjata dan mendapatkan hadiah (poin/menang) atas tindakan tersebut. Hal ini memperkuat internalisasi perilaku agresif.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-02 05:57