Duga Guru Salah Ajar Bikin Nilai Matematika Jeblok, Mendikdasmen: Mudah-mudahan Tak Benar

2026-01-12 03:23:52
Duga Guru Salah Ajar Bikin Nilai Matematika Jeblok, Mendikdasmen: Mudah-mudahan Tak Benar
JAKARTA, - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menjawab kritik terhadap dirinya yang dianggap menyalahkan guru atas jebloknya nilai matematika pada Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2025.Mu'ti mengatakan, guru salah ajar hanya salah satu kemungkinan yang menyebabkan jebloknya hasil TKA 2025 dan ia berharap dugaan tersebut tidak benar."Kan ada kata-kata 'mungkin'. Jangan... kan kata-kata 'mungkin'. Mungkin itu bisa benar, bisa tidak. Ya mudah-mudahan saja saya mudah-mudahan tidak benar," ujar Mu'ti saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu .Baca juga: Nilai Matematika TKA 2025 Jeblok, Pemerhati: Bukan Kegagalan GuruMu'ti mengatakan, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan nilai jeblok, misalnya buku pelajaran yang dikonsumsi para murid.Namun, ia menekankan bahwa semua pihak harus melakukan evaluasi atas hasil TKA 2025."Tapi kata-kata 'mungkin' itu jangan di... Saya bilang mungkin karena bukunya, mungkin karena salah ajarnya, silakan kita semua melakukan evaluasi aja gitu," ucap dia.Mu'ri pun mengaku belum bisa menyimpulkan peneybab anjloknya nilai matematika pada TKA 2025.Baca juga: Jebloknya Nilai Matematika Siswa di TKA 2025, Mendikdasmen: Bukan Muridnya"Ya banyak faktor kan, banyak faktor. Nanti kita lihat secara keseluruhan, secara keseluruhan nanti akan kita lihat," imbuh Mu'ti.Sebelumnya, Abdul Mu'ti mengungkap alasan jebloknya nilai Matematika siswa SMA sederajat di Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025.Menurut Mu'ti, buruknya nilai Matematika siswa di TKA bukan karena siswa tersebut bodoh dalam mengerjakan soal matematika.Baca juga: Nilai Matematika TKA 2025 Jeblok, Mendikdasmen Ungkap 3 PenyebabnyaAkan tetapi, mungkin karena buku yang digunakan untuk belajar dan cara guru mengajarkan tidak membuat siswa ingin terus belajar Matematika."Bukan karena muridnya goblok bukan, tapi mungkin cara kita mengajarkannya dan bukunya tidak mendorong mereka untuk belajar (Matematika)," kata Mu'ti di pembukaan Musyawarah Nasional ke-20 Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta, Rabu .Mu'ti juga menyinggung masalah rendahnya numerasi siswa-siswa di Indonesia yang menurut Mu'ti disebabkan adanya anggapan bahwa Matematika adalah materi yang sulit.Oleh karena itu, kini pemerintah tengah menyiapkan agar anak-anak bisa menilai suka dengan pelajaran Sains, Teknik, Teknologi, dan Matematika (STEM).


(prf/ega)