7.959 Korban Eruspi Gunung Lewotobi Mengungsi, 1.816 Jiwa Tempati Hunian Sementara

2026-01-17 01:04:28
7.959 Korban Eruspi Gunung Lewotobi Mengungsi, 1.816  Jiwa Tempati Hunian Sementara
FLORES TIMUR, – Pemerintah Kabupaten Flores Timur, NTT, mencatat, per Rabu , jumlah pengungsi korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki sebanyak 7.959 jiwa.Ribuan penyintas ini berasal dari beberapa desa terdampak, yaitu Klantalo, Hokeng Jaya, Nawokote, Dulipali, Nobo, dan Boru sebagian.“Daerah ini masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki,” ujar Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Flores Timur, Heronimus Lamawurand, Kamis .Baca juga: Sempat Lumpuh akibat Banjir Lahar Lewotobi, Jalur Nobo-Nurabelen Kini Kembali NormalHeronimus merincikan, dari 7.959 penyintas, sebanyak 4.073 jiwa atau 1.150 kepala keluarga (KK) tersebar di beberapa posko, dan mengungsi secara mandiri.Mereka yang pengungsi mandiri tersebut, menetap di rumah keluarga dan kerabat di beberapa kecamatan, di antaranya Wulanggitang, Ile Bura, Lewolema, Ile Mandiri, Larantuka, dan beberapa wilayah lain.“Ada yang menetap di Pulau Adonara dan Pulau Solor,” katanya.Baca juga: Huntara Diterjang Banjir, Penyintas Erupsi Gunung Lewotobi NTT Ingin Pulang KampungKemudian, beber Heronimus, sebanyak 1.816 penyintas sudah menempati hunian sementara (huntara).Sedangkan pengungsi yang sudah menerima dana tunggu hunian (DTH) sebanyak 1.846 jiwa.Ia menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya bekerja secara optimal dalam mengurus warga yang terdampak bencana.Tenaga medis bersiaga selama 24 jam, dan melakukan pemeriksaan secara rutin kondisi kesehatan para penyintas.Heronimus mengungkapkan bahwa ada sejumlah kebutuhan mendesak yang dibutuhkan pengungsi, yaitu air bersih, perlengkapan mandi dan cuci, sembako, lauk pauk minyak tanah, dan air bersih.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-01-17 04:48