Dedi Mulyadi Instruksikan Sawit Dilarang di Jabar, Pergub Disiapkan

2026-02-06 16:11:58
Dedi Mulyadi Instruksikan Sawit Dilarang di Jabar, Pergub Disiapkan
BANDUNG, - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta Dinas Perkebunan segera menyiapkan aturan larangan budidaya kelapa sawit di wilayahnya.Hal itu dilakukan Dedi Mulyadi menyusul temuan kawasan perbukitan Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon yang dinilai tidak sesuai dengan karakter dan peruntukan lahan di Jawa Barat.Baca juga: Jadi Perhatian Dedi Mulyadi, Kebun Sawit di Bukit Cigobang Cirebon Tak BerizinDedi Mulyadi mengaku telah meminta kepala dinas perkebunan untuk membuat surat edaran atau peraturan gubernur (Pergub) mengenai larangan budidaya sawit di Jawa Barat."Saya sudah meminta kepala dinas perkebunan untuk membuat surat edaran atau Pergub. Larangan budidaya sawit di Jawa Barat sejak sekarang," kata Dedi kepada awak media di Gedung Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Kota Bandung, Selasa .Menurut Dedi, budidaya sawit membutuhkan lahan yang sangat luas, sementara kondisi geografis Jawa Barat tidak mendukung.Ia juga menyoroti dampak lingkungan dari kebun sawit yang sudah ada di sejumlah daerah, salah satunya kesulitan warga sekitar mendapatkan air bersih."Karena dulu sudah ada. Iya. Di Sukabumi ada, Subang ada di Subang itu keluhan masyarakat kekurangan air," kata Dedi.Baca juga: Buruh Geruduk Kantor Dedi Mulyadi, Protes Pencoretan UMSK 2026 di Banyak WilayahKompas.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON Penampakan salah satu dari beberapa pohon sawit di Bukit Desa Cigobang Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon Jawa Barat pada Selasa siang.Mantan Bupati Purwakarta itu mengungkapkan bahwa enam bulan lalu pihaknya telah menerima laporan mengenai rencana budidaya sawit di lereng Gunung Ciremai.Namun, rencana tersebut dibatalkan atas permintaan Dedi kepada kepala daerah setempat untuk tidak memberikan izin penanaman sawit.Terkait kebun sawit di Cirebon, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak dapat mengetahui seluruh aktivitas di lapangan tanpa laporan dari pemerintah desa atau daerah."Nah kemudian kalau yang di Cirebon ini saya enggak ada yang lapor. Padahal kalau kepala desanya lapor kan selesai. Kan gubernur enggak mungkin tahu semua hal keliling tiap waktu kan," tuturnya.Dedi menilai persoalan sawit di Cirebon baru disadari setelah masyarakat merasakan dampaknya.Ia menegaskan, kebun sawit yang berada di luar peruntukan harus dihentikan dan dialihkan ke tanaman lain, mengingat Jawa Barat lebih cocok mengembangkan komoditas perkebunan yang sesuai dengan kondisi wilayahnya."Jadi Jawa Barat itu cocok nya teh, karet, kina, kopi,” pungkas Dedi.Sebelumnya diberitakan, keberadaan sejumlah pohon sawit di kawasan perbukitan Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadi sorotan.Hamparan pohon sawit yang tersebar di luas area sekitar 4 hektar ini diungkap dan menimbulkan keresahan warga sekitar. Pasalnya area yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan hutan kini memperlihatkan deretan tanaman sawit yang tumbuh di atas bukit dan sekitar kawasan lereng.Hipal Surdiniawan, pegiat lingkungan dari Sawala Buana, Kecamatan Pasaleman, mengkritik alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit di Desa Cigobang tersebut.Kawasan hutan Cigobang masih memiliki vegetasi yang baik dan berperan penting sebagai kawasan penyangga mata air.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-06 14:47