2 Kali Ditinggal Wafat Suami, Ibu Penjual Kenari Berhasil Sarjanakan 7 dari 9 Anaknya

2026-01-12 07:01:55
2 Kali Ditinggal Wafat Suami, Ibu Penjual Kenari Berhasil Sarjanakan 7 dari 9 Anaknya
TERNATE, - Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIT. Dengan cekatan, tangan tua itu mengemas kacang goreng ke dalam pembungkus plastik.Sesekali bungkusan itu diangkat dan diterawang, memastikan setiap bungkus kacang goreng yang dikemas isinya sama.Sahrin memang mempersiapkan kacang goreng dan halua kenari (kenari karamel) sejak malam, untuk dijual keesokan hari di Pasar Gamalama, Ternate, Maluku Utara.Ini adalah usaha sampingan Sahrin, selain berjualan kenari. "Biasanya saya juga buat halua kenari. Tapi malam ini hanya kacang goreng. Belum ada waktu, masih ada tamu," ujar Sahrin pelan.Sehari-hari, perempuan itu berjualan mulai pukul 07.00-15.00 WIT. Artinya, masih ada berkumpul dengan keluarga di penghujung hari.Sambil mengemas kacang goreng ia bercerita, sudah sekitar 20 tahun dia berdagang buah kenari di Kota Ternate.Baca juga: Sahrin, Wanita Penjual Kenari yang Mampu Sarjanakan 7 Anaknya Hasilnya, Sahrin mampu menyekolahkan lima anak kandung dan empat anak sambung. Di mana, tujuh di antaranya mampu menyelesaikan hingga tingkat sarjana.Awalnya, berdagang hanya dijadikan usaha sampingan untuk membantu perekonomian keluarga.Namun, saat suaminya meninggal karena kecelakaan, dia lalu menjadi tulang punggung keluarga. Sebab, ia harus memberi makan anak-anaknya, dan tak mau anak-anak putus sekolah.Sebelum berjualan buah kenari, dia pernah berkeliling berjualan ikan teri yang diperoleh dari Desa Tabanoma, yang dijual dengan cara berkeliling di Galela dan Tobelo, Halmahera Utara.Anak-anaknya terpaksa harus dititipkan pada orangtuanya, karena baru pulang kadang 2-3 hari."Saat itu anak-anak masih kecil belum sekolah, jadi saya titip di mama. Kalau dagangan belum habis belum pulang," kata Sahrin.Baca juga: Cerita Ibu Pekerja Sri Wulandari: Berbagi Peran Sebagai Pasangan, Berbagi Tugas BersamaBeberapa tahun berselang, Sahrin kembali dipinang seorang pria. Tapi bukan berarti kehidupan semakin membaik. Terjadi konflik horizontal tahun 1998-1999 di Maluku Utara.Usaha berjualan ikan harus dihentikan. Dia harus lari menyelamatkan diri ke kampung orangtua di Desa Samsuma, Pulau Makian, Halmahera Selatan dengan membawa ketiga putranya.Sedangkan suami keduanya, membawa empat orang anak dari pernikahan sebelumnya.


(prf/ega)