Kekerasan di Masjid Sibolga: Moral Panic dan Krisis Sosial

2026-01-15 14:13:21
Kekerasan di Masjid Sibolga: Moral Panic dan Krisis Sosial
PERISTIWA pengeroyokan yang menewaskan seorang pemuda di Masjid Agung Sibolga, Sumatera Utara, bukan sekadar catatan kriminal, melainkan potret retak sosial yang jauh lebih dalam.Di ruang yang seharusnya menjadi simbol kedamaian, kita menyaksikan kemarahan kolektif yang meledak tanpa kendali.Antropologi sosial mengajarkan bahwa setiap tindakan kekerasan selalu berakar pada relasi sosial, pada cara komunitas memaknai keteraturan, kesucian, dan ancaman terhadapnya.Dalam banyak masyarakat Muslim di Indonesia, masjid menempati posisi ganda: ruang ibadah dan ruang sosial.Di masa lalu, masjid adalah tempat berlindung, tempat musafir beristirahat, ruang belajar dan berdialog. Namun, di tengah urbanisasi dan menipisnya rasa saling percaya, fungsi sosial itu perlahan berubah.Baca juga: Nestapa Pemuda di Sibolga, Ingin Istirahat di Masjid, Justru Tewas DikeroyokMasjid kini tak selalu lagi menjadi ruang publik terbuka, melainkan sering dianggap sebagai ruang identitas kelompok, siapa yang “layak” dan siapa yang “tidak pantas” berada di dalamnya.Ketika seseorang dianggap melanggar norma kesalehan, reaksi sosial yang muncul kerap ekstrem.Dalam kasus Sibolga, kekerasan itu tampak lahir dari keinginan menjaga kesucian ruang ibadah, tapi justru menjelma menjadi penistaan terhadap makna spiritual itu sendiri.Inilah yang oleh antropolog disebut sebagai “moral panic”, ketakutan kolektif bahwa tatanan moral sedang terancam, hingga komunitas merasa berhak menjadi hakim atas nama kebenaran.Lebih jauh, peristiwa ini memperlihatkan transformasi solidaritas sosial di masyarakat kita. Di masa lalu, nilai gotong royong dan welas asih menjadi fondasi kehidupan bersama.Kini, di tengah individualisme yang makin menebal, kesalehan sering kehilangan dimensi sosialnya. Agama tampil sebagai identitas simbolik; tampak suci di permukaan, tapi kering dari empati dan keramahan yang dulu menjadi inti dari spiritualitas itu sendiri.Baca juga: Membaca Emosi Sandra Dewi dalam Kasus Harvey MoeisSecara antropologis, kekerasan di ruang ibadah ini bukan hanya soal pelaku dan korban, tetapi juga cerminan dari krisis nilai sosial kita. Masjid yang dulu menjadi tempat teduh kini menjadi panggung bagi rasa takut dan curiga.Kekerasan itu adalah ekspresi dari kegelisahan sosial yang lebih luas—tentang hilangnya rasa memiliki terhadap ruang bersama, tentang rapuhnya kepercayaan antarwarga, dan tentang kesalehan yang makin diprivatisasi.Membaca kasus ini dengan kacamata antropologi sosial berarti menolak melihatnya sekadar sebagai kejahatan individual. Ia adalah gejala kebudayaan, saat masyarakat gagal merawat nilai-nilai sosial yang pernah menjadi jantung kehidupan beragama.Barangkali, sebelum menuntut keadilan di pengadilan, kita juga perlu menuntut kejujuran dari diri kita sendiri: mengapa rumah ibadah yang seharusnya memeluk, kini justru menolak?


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#5

Sementara Samsung Music Studio 5 hadir dengan ukuran lebih ringkas. Speaker ini ditujukan bagi pengguna yang menginginkan kualitas audio mumpuni tanpa mengganggu tampilan ruangan. Music Studio 5 mendukung koneksi WiFi dan Bluetooth, layanan streaming, serta kontrol suara.Kedua speaker WiFi Music Studio juga dirancang agar mudah diintegrasikan dengan soundbar dan TV Samsung, sebagai bagian dari ekosistem audio terpadu.Samsung juga meningkatkan teknologi Q-Symphony, yang memungkinkan TV, soundbar, dan speaker WiFi bekerja sebagai satu sistem audio. Pengguna dapat menghubungkan hingga lima perangkat audio sekaligus, dengan sistem yang menyesuaikan suara berdasarkan tata letak ruangan.Selain itu, Samsung juga memperkenalkan jajaran ekosistem audio terbaru mereka dari lini soundbar Q Series.Selama lebih dari satu dekade, Samsung telah membentuk evolusi audio rumah melalui teknologi akustik canggih, fitur cerdas, dan desain yang dipikirkan secara matang, ungkap Hun Lee, Executive Vice President Visual Display Business Samsung Electronics, dikutip KompasTekno dari halaman resmi Samsung. Kami melanjutkan warisan tersebut dengan perangkat audio generasi terbaru yang dirancang untuk menghadirkan performa suara yang kaya dan ekspresif di setiap ruang dan momen, lanjut dia. Salah satu produk utama dalam ekosistem audio terbaru ini adalah soundbar flagship HW-Q990H.Baca juga: Ketika HP Lipat Tiga Samsung Galaxy Z TriFold Dibuka-Tutup Barbar 200.000 Kali...Soundbar ini hadir dengan sistem 11.1.4-channel yang menggabungkan soundbar utama, speaker belakang, dan subwoofer aktif. Samsung juga menambahkan teknologi Sound Elevation agar terdengar lebih natural, serta fitur Auto Volume untuk menjaga konsistensi suara di berbagai jenis konten.Soundbar ini juga dibekali fitur berbasis AI untuk memperluas bidang suara. Lewat fitur ini, Samsung mengeklaim pengalaman audio yang dihadirkan setara dengan sistem home theater profesional, tetapi tetap ringkas untuk penggunaan di rumah.Selain itu, Samsung memperkenalkan All-in-One Soundbar HW-QS90H. Soundbar ini bisa dipasang di dinding atau diletakkan di atas meja. Sensor di dalamnya akan menyesuaikan arah suara secara otomatis sesuai posisi perangkat. Dengan sistem 7.1.2-channel dan 13 speaker, soundbar ini mampu menghasilkan bass yang dalam tanpa perlu subwoofer tambahan.

| 2026-01-15 13:05