Coretan Grafiti Tak Selalu Vandalisme, tapi Wadah Ekspresi dan Kritik Sosial

2026-02-02 01:53:38
Coretan Grafiti Tak Selalu Vandalisme, tapi Wadah Ekspresi dan Kritik Sosial
JAKARTA, – Di sudut-sudut kota Jakarta, dari Jalan Cut Nyak Dien hingga Jalan Gondangdia 3, hingga tembok-tembok di bawah flyover Senen dan Kwitang, tampak coretan warna-warni yang menghiasi dinding dan tiang penyangga.Bagi sebagian orang, itu adalah sampah visual yang mengotori kota.Bagi sebagian lainnya, itu adalah bentuk ekspresi seni jalanan yang menyuarakan kritik sosial, identitas, dan aspirasi anak muda.Grafiti dan mural memunculkan perdebatan yang panjang antara hak individu untuk berekspresi dan kebutuhan publik akan estetika serta ketertiban.Baca juga: Jejak Grafiti di Jakarta, Antara Mural Estetik dan Coretan LiarKompas.com menelusuri fenomena ini melalui wawancara mendalam dengan sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat.Temuan lapangan menunjukkan bahwa grafiti tidak hanya soal coretan di tembok, tetapi juga soal identitas, protes, dan ruang bagi anak muda untuk menyalurkan aspirasi ketika kanal politik formal dirasa buntu.Menurut Rakhmat Hidayat, perbedaan mendasar antara grafiti dan mural sering disalahpahami masyarakat.“Pertama adalah yang disebut sebagai grafiti, yang kedua disebut sebagai mural. Tapi orang sering salah memahami apakah ini grafiti atau mural karena sama-sama coretan,” ujar Rakhmat kepada Kompas.com, Senin .Grafiti lahir dari budaya jalanan atau street culture, terutama dari subkultur hip-hop di Amerika Serikat pada 1970-1980-an.Anak-anak muda kulit hitam di Amerika yang mengalami diskriminasi dan rasisme mengekspresikan identitas dan perlawanan mereka melalui coretan di jalanan.“Mereka bawa radio, dengerin musik, menari, menyanyi, sambil coret-coret di jalan. Itu bentuk ekspresi identitas dan perlawanan karena kanal formal tidak tersedia,” jelasnya.Sementara mural biasanya dilakukan oleh mahasiswa seni rupa atau seniman yang bekerja sama dengan pemerintah kota.Tujuannya lebih pada pesan sosial, estetika, atau memperindah ruang publik. Contohnya, mahasiswa seni rupa UNJ di Jakarta Timur beberapa tahun lalu membuat mural untuk kampanye anti-narkoba dan isu lingkungan.Hal serupa juga terjadi di Bandung, oleh mahasiswa ITB, dengan pesan-pesan sosial yang jelas.Baca juga: Grafiti Liar di Ruang Publik, Ekspresi Seni atau Merusak?Fenomena grafiti yang lahir sebagai protes sosial di Amerika kemudian mengalami transformasi ketika masuk ke konteks Indonesia.Rakhmat menuturkan, grafiti kini tidak sekadar estetika, tetapi juga medium kritik terhadap elite politik dan kebijakan publik.“Ada vandalisme positif yang bersifat kritik sosial, dan ada vandalisme negatif yang hanya merusak estetika kota,” katanya.Vandalisme positif ini sering muncul saat momen politik penting, seperti revisi undang-undang KHP, aksi demonstrasi Indonesia Gelap, atau transisi kepemimpinan nasional.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#5

Pada hari penerapan, ganjil genap berlaku dalam dua sesi, yakni pagi pukul 06.00–10.00 WIB dan sore pukul 16.00–21.00 WIB. Pengendara yang melintas di akses tol yang terhubung langsung dengan jalan ganjil genap tetap wajib menyesuaikan pelat nomor kendaraan.Baca juga: Wisatawan Menuju Gunungkidul Diimbau Gunakan Jalur AlternatifAdapun 28 akses gerbang tol di Jakarta yang terkena ganjil genap pada pekan ini sebagai berikut:1. Jalan Anggrek Neli Murni sampai akses masuk Tol Jakarta-Tangerang2. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai Jalan Brigjen Katamso3. Jalan Brigjen Katamso sampai Gerbang Tol Slipi 24. Off ramp Tol Tomang/Grogol sampai Jalan Kemanggisan Utama5. Simpang Jalan Palmerah Utara-Jalan KS Tubun sampai Gerbang Tol Slipi 16. Jalan Pejompongan Raya sampai Gerbang Tol Pejompongan7. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai akses masuk Jalan Tentara Pelajar8. Off ramp Tol Benhil/Senayan/Kebayoran sampai akses masuk Jalan Gerbang Pemuda9. Off ramp Tol Kuningan/Mampang/Menteng sampai simpang Kuningan10. Jalan Taman Patra sampai Gerbang Tol Kuningan 211. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai simpang Pancoran12. Simpang Pancoran sampai Gerbang Tol Tebet13. Jalan Tebet Barat Dalam Raya sampai Gerbang Tol Tebet 214. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai Jalan Pancoran Timur II15. Off ramp Tol Cawang/Halim/Kampung Melayu sampai simpang Jalan Otto Iskandardinata-Jalan Dewi Sartika16. Simpang Jalan Dewi Sartika-Jalan Otto Iskandardinata sampai Gerbang Tol Cawang17. Off ramp Tol Halim/Kalimalang sampai Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang18. Jalan Cipinang Cempedak IV sampai Gerbang Tol Kebon Nanas19. Jalan Bekasi Timur Raya sampai Gerbang Tol Pedati20. Off ramp Tol Pisangan/Jatinegara sampai Jalan Bekasi Barat21. Off ramp Tol Jatinegara/Klender/Buaran sampai Jalan Bekasi Timur Raya22. Jalan Bekasi Barat sampai Gerbang Tol Jatinegara23. Simpang Jalan Rawamangun Muka Raya-Jalan Utan Kayu Raya sampai Gerbang Tol Rawamangun24. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan Utan Kayu Raya-Jalan Rawamangun Muka Raya25. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan H Ten Raya-Jalan Rawasari Selatan26. Simpang Jalan Rawasari Selatan-Jalan H Ten Raya sampai Gerbang Tol Pulomas27. Off ramp Tol Cempaka Putih/Senen/Pulogadung sampai simpang Jalan Letjend Suprapto-Jalan Perintis Kemerdekaan28. Simpang Jalan Pulomas sampai Gerbang Tol Cempaka Putih

| 2026-02-02 00:30