– Kegiatan Olimpiade Matematika tingkat SD dan MI se-Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang digelar Saryta Management di Gedung Serbaguna Bojonegoro pada Minggu , berakhir ricuh dan terpaksa dihentikan.Ribuan peserta yang telah mengikuti rangkaian lomba tidak dapat melanjutkan tahapan kompetisi setelah suasana di dalam gedung menjadi tidak kondusif.Kericuhan bermula dari protes orang tua peserta terkait hasil penilaian lomba.Situasi tersebut kemudian memicu kepanikan massal yang membuat banyak anak menangis histeris, sementara orang tua berusaha menerobos masuk untuk mencari anak mereka.Baca juga: Viral, Siswa MI di Bojonegoro Menggelar Kegiatan Belajar Mengajar di Bangunan Tak LayakInformasi yang dihimpun menunjukkan kegiatan Olimpiade Matematika Bojonegoro sejak awal telah memunculkan sejumlah keluhan dari wali murid.Para orang tua menilai penyelenggaraan tidak profesional, mulai dari kurangnya kesiapan teknis, sistem pelaksanaan yang tidak tertata, hingga alur kegiatan yang membingungkan.Ketidakpuasan memuncak saat panitia mengumumkan hasil penjurian. Dua orang tua peserta melayangkan protes keras karena menilai penilaian tidak adil. Protes tersebut kemudian menyulut reaksi ratusan orang tua lain yang ikut mendesak masuk ke dalam gedung.“Awalnya hanya dua orang tua yang protes, kemudian diikuti ratusan orang tua lainnya hingga anak-anak yang masih berada di dalam gedung menjadi panik,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara Saryta Management, Ita Puspitasari.Suasana dalam gedung berubah kacau. Anak-anak menangis, sebagian berteriak histeris karena berdesakan ingin keluar. Di luar, orang tua juga panik dan berusaha masuk untuk menjemput anak mereka.Baca juga: Ayah di Bojonegoro Perkosa Anak Kandungnya yang Masih Remaja hingga HamilPanitia mencatat jumlah peserta Olimpiade Matematika SD/MI Bojonegoro 2025 mencapai sekitar 2.000 siswa. Jumlah tersebut melonjak dua kali lipat dari laporan awal izin kegiatan yang hanya sekitar 1.000 peserta.“Awalnya kami laporkan sesuai izin sekitar 1.000 peserta. Namun sehari sebelum pelaksanaan ada tambahan dari sekolah-sekolah sehingga jumlahnya menjadi sekitar 2.000 peserta,” kata Ita.Peserta sebelumnya telah mengikuti seleksi di sekolah masing-masing.Untuk mengikuti olimpiade, setiap anak membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 55.000 yang meliputi medali, sertifikat, uang pembinaan, serta fee untuk guru pendamping.Pelaksanaan olimpiade dibagi dalam tiga gelombang:Baca juga: Polres dan Pemkab Bojonegoro Juga Sidak Sejumlah SPBU Imbas Motor Brebet MassalNamun, lomba gelombang pertama baru berjalan hingga tahapan level 2 dan 3 ketika kejadian ricuh terjadi.
(prf/ega)
Duduk Perkara Ricuhnya Olimpiade Matematika di Bojonegoro, Berawal dari Orangtua yang Protes
2026-01-12 04:02:14
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:11
| 2026-01-12 03:51
| 2026-01-12 03:40
| 2026-01-12 02:32
| 2026-01-12 02:22










































