SAMARINDA, — Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur (Kaltim) menyesalkan pernyataan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Asli Nuryadin, yang menyatakan murid SD mengalami patah kaki bukan sebagai korban bullying.Sudirman dari Biro Hukum TRC PPA Kaltim menyebut pernyataan Asli yang menilai insiden tersebut “bukan bullying” dan terjadi saat anak-anak bermain biasa di lingkungan sekolah melukai perasaan keluarga korban.“Itu sangat disayangkan. Beliau menyatakan bahwa itu hanya bermain biasa. Padahal di sini ada korban yang kakinya patah, dan kejadiannya di lingkungan sekolah,” ujar Sudirman saat diwawancara, Senin .Sudirman menegaskan, pernyataan seorang kepala dinas seharusnya menyejukkan dan memberi kepastian, bukan menimbulkan kontroversi.Baca juga: Bocah 10 Tahun di Samarinda Diduga Jadi Korban Kekerasan hingga Kakinya Patah, Disdik: Anak-anak Belum Paham BullyingIa mengatakan, TRC PPA sudah bertemu langsung dengan keluarga korban serta mendengarkan kronologi dari korban di rumah sakit.“Terlepas dari berbagai informasi, yang paling kami sayangkan adalah statement dari kepala dinas. Itu sangat menyakiti perasaan semua pihak,” ujarnya.Sudirman mempertanyakan pemahaman Kadisdik tentang konsep bullying, yang memiliki berbagai bentuk dan level risiko.“Pertanyaannya, apakah mereka memahami apa itu bullying? Ada bullying fisik, verbal, sosial, pelecehan seksual, dan siber,” ucapnya.“Yang terjadi ini adalah bullying secara fisik, dan mengakibatkan seorang anak patah kaki. Masak seorang kepala dinas tidak mengetahui apa itu bullying ataupun tingkatannya?,” lanjutnya.Baca juga: 22 Tahun Berlari Menuju Api: Kisah Hidup Petugas Damkar Samarinda Ichwan WahyudinIa juga menyebut korban mengaku mengalami kejadian serupa berulang kali, sehingga seharusnya sekolah dan dinas lebih serius menanggapi kasus tersebut.“Harusnya itu yang dilakukan dinas, karena ini jelas terjadi di lingkungan sekolah yang mereka naungi. Jangan menganggap remeh kejadian pada anak-anak ini,” kata Sudirman.Sebelumnya, Kepala Disdikbud Samarinda Asli Nuryadin menilai insiden patah kaki yang dialami bocah SD tersebut bukan merupakan tindakan perundungan.“Kalau anak-anak kecil, usia SD, mereka belum benar-benar memahami apa itu bullying. Mereka bermain seperti biasa, tapi mungkin permainannya keras dan membahayakan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat .Ia menyebut kasus ini telah diselesaikan melalui Tim Anti Kekerasan di sekolah. Orangtua kedua belah pihak pun sepakat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, termasuk membantu biaya pengobatan.Meski demikian, Asli menginstruksikan sekolah agar memperketat pengawasan saat anak-anak bermain.Baca juga: Sidang Kasus Penembakan di THM Samarinda, Terdakwa Beberkan Keterangan“Guru harus lebih memantau anak-anak. Mereka belum paham risiko bermain terlalu keras. Ini harus diwaspadai,” katanya.Ia menambahkan, kasus ini menjadi pembelajaran bagi seluruh sekolah di Samarinda agar lebih aktif memberikan edukasi mengenai kekerasan dan etika pergaulan.“Alhamdulillah masalah ini sudah diselesaikan di sekolah. Mudah-mudahan tidak terulang lagi,” ujar Asli.
(prf/ega)
Murid SD Patah Kaki Tak Dianggap Bullying: TRC PPA Sesalkan Pernyataan Kadisdik Samarinda
2026-01-13 06:57:55
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 06:02
| 2026-01-13 05:24
| 2026-01-13 05:20
| 2026-01-13 04:45










































