Banjir Susulan di Huta Nabolon Tapteng Hentikan Distribusi Bantuan, Warga: Tolong Cari Keluarga Kami

2026-01-12 18:43:57
Banjir Susulan di Huta Nabolon Tapteng Hentikan Distribusi Bantuan, Warga: Tolong Cari Keluarga Kami
TAPANULI TENGAH, – Distribusi bantuan dan operasi pencarian korban hilang di Kelurahan Huta Nabolon kembali terhambat setelah banjir susulan membawa balok-balok kayu berukuran besar, Minggu siang.Huta Nabolon merupakan salah satu titik paling terdampak banjir dan longsor sejak 25 November, dengan kerusakan parah pada permukiman, jembatan, serta jalan penghubung di Kecamatan Tukka.Dikutip dari Antara, berdasarkan pantauan di Lingkungan IV, air berwarna coklat pekat mulai turun dari perbukitan setelah hujan mengguyur kawasan itu sekitar pukul 11.00 WIB.Baca juga: Korban Banjir Pandan Tapanuli Tengah Butuh Makanan Bayi hingga Air BersihHujan sempat berhenti, namun kembali turun dengan intensitas tinggi dua jam kemudian. Kabut tebal membuat jarak pandang tak lebih dari 100 meter.Arus air bahkan tak lagi mengikuti jalur sungai. Luapan meluber dari berbagai arah, terutama menuju jalan raya penghubung Huta Nabolon–Tukka yang sebelumnya menjadi alur banjir terbesar.Saat banjir kembali datang, distribusi bantuan berupa sembako, selimut, dan kebutuhan dasar tengah berlangsung. Warga terlihat mengantre di sebuah truk logistik milik Pemkab Tapanuli Tengah.Namun bantuan belum bisa mencapai warga di daerah perbukitan seperti Desa Sigiring-giring, Saurmanggita, dan Tapianauli.Jalur satu-satunya menuju lokasi mereka terendam air hingga setinggi pinggang orang dewasa.Tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, dan pemerintah daerah yang tengah melakukan pencarian juga menghentikan operasi. Mereka sebelumnya telah menemukan sejumlah titik tumpukan tanah yang diduga menimbun korban hilang.Pertimbangan keselamatan dan kondisi jaringan komunikasi yang tidak stabil membuat tim kembali ke Posko Gabungan di GOR Pandan.Hingga pukul 17.50 WIB, hujan belum berhenti. Warga khawatir banjir kembali meningkat dan memperparah kerusakan.Di Lingkungan IV, batang kayu dan batu besar sepanjang empat hingga enam meter masih menumpuk. Material sisa banjir dua pekan lalu itu telah meratakan permukiman sekitar 150–200 kepala keluarga.Wilayah ini pula yang videonya sempat viral di media sosial saat banjir pertama terjadi.Margembira Gultom (41), warga Lingkungan IV, mengapresiasi perhatian pemerintah dan berbagai komunitas. Namun ia berharap keterbatasan akses tidak membuat bantuan terhenti."Sudah ada yang masuk. Tapi untuk kami dan beberapa desa yang dekat dengan perbukitan bantuan itu baru bisa diterima, warga ya sepekan setelah bencana. Kenapa? Tidak terinfokan ke kami ini," cetusnya.Ia menegaskan bahwa warga sangat membutuhkan alat berat untuk membersihkan material dan menormalkan tiga aliran sungai yang mengelilingi permukiman. Selain itu, alat berat penting untuk mencari korban yang masih tertimbun."Masih banyak sekali saudara kami yang tertimbun pak, sudah dua minggu ini masa tidak bisa kirim alat berat apalagi Lingkungan IV ini, hancur sudah semua rumah-rumah kami rata dengan tanah. Tolong cari mereka para orang tua kami yang hilang sampai bisa ditemukan," ungkapnya.


(prf/ega)