Banyak Akses Jalan Putus di Aceh-Sumut-Sumbar, Bantuan Dikirim via Udara

2026-01-14 16:02:57
Banyak Akses Jalan Putus di Aceh-Sumut-Sumbar, Bantuan Dikirim via Udara
Pemerintah menyiapkan skema pendistribusian bantuan logistik melalui jalur udara. Hal itu dikarenakan jembatan akses jalan darat di sejumlah wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat lumpuh total akibat banjir bandang dan tanah longsor.Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan langkah ini menjadi prioritas. Karena banyak wilayah yang terisolasi dan tidak dapat dijangkau kendaraan akibat longsor maupun terjangan banjir."Dalam kondisi tanggap darurat kita tidak bisa menunggu pemberian bantuan sampai infrastruktur perhubungan darat ini selesai. Jadi, kita akan mengirimkan juga lewat udara-perairan," kata Pratikno dalam konferensi pers usai rapat terbatas di Kantor BNPB Jakarta, Kamis, dilansir Antara, Kamis (27/11/2025).Dia memastikan pemerintah melalui kementerian dan lembaga teknis saat ini sedang merancang bagaimana mekanisme dan memetakan wilayah sasaran penyaluran bantuan tersebut. Berdasarkan ahli tim meteorologi, dalam rapat tersebut, wilayah Sumatera bagian utara hingga barat masih ada potensi gangguan cuaca."Nah jadi ini menjadi tantangan luar biasa, dan tadi kami sudah berkomunikasi dengan Kepala BNPB yang saat ini sudah berada di Posko Tarutung untuk mulai skema mengirimkan bantuan melalui udara," ujarnya.Dia menyadari kondisi masyarakat terdampak bencana tidak mudah, karena juga terjadi listrik padam serta saluran telekomunikasi yang terbatas. Pratikno juga mengimbau masyarakat Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat itu untuk tetap tenang dan mengikuti semua arahan petugas.Dia memastikan sebagaimana arahan dari Presiden, pemerintah siap memberikan pertolongan pertama kegawatdaruratan bencana dengan cepat, dan masif memaksimalkan semua sumber daya yang ada."Ini urusan kemanusiaan, harus cepat," ujarnya.Lihat juga Video Banjir Cianjur Selatan: Jalan Putus-Jembatan Rusak[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 15:27