Embarkasi Baru Banten dan Yogyakarta Disiapkan Layani Jemaah Haji 2026

2026-02-04 02:36:54
Embarkasi Baru Banten dan Yogyakarta Disiapkan Layani Jemaah Haji 2026
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menetapkan 14 embarkasi akan beroperasi penuh melayani jemaah haji. Kementerian Haji dan Umrah juga menyiapkan dua embarkasi baru, yakni Banten dan Yogyakarta, pada penyelenggaraan ibadah haji 2026."Tahun ini sebanyak 14 embarkasi atau debakarsi utama akan beroperasi penuh, antara lain Aceh, Medan, Padang, Pondok Gede, Bekasi, Solo, Surabaya, Balikpapan, Banjarmasin, Lombok, Makassar, Palembang, Batam, dan Indramayu Kertajati," kata Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu .Gus Irfan menilai Banten dan Yogyakarta telah memenuhi kesiapan sarana asmara. Selain itu, pengaktifan dua embarkasi baru itu bertujuan agar pergerakan jemaah haji lebih efisien."Selain itu, dua provinsi baru, yaitu Banten dan Daerah Istimewa Yogyakarta, telah ditetapkan embarkasi atau debakarsi baru, mengingat kesiapan sarana asmara, dukungan pemerintah daerah, serta potensi efisiensi pergerakan jemaah dari wilayah sekitarnya," ujarnya."Langkah ini menjadi bagian upaya pemerataan layanan dan peningkatan efisiensi penyelenggaraan ibadah haji di tingkat regional," sambung dia.Gus Irfan mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah persiapan, mulai peningkatan kualitas akomodasi hingga kapasitas SDM. "Persiapan yang dilakukan mencakup peningkatan kualitas akomodasi, konsumsi, transportasi, pembenahan infrastruktur utama, seperti kamar jemaah, dapur, ruang tunggu, serta peningkatan kapasitas SDM," paparnya.Selain itu, Kementerian Haji dan Umrah juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, khususnya untuk memastikan seluruh asrama memenuhi standar sanitasi."Kementerian Haji dan Umrah RI bekerja sama erat dengan Kementerian Kesehatan untuk memastikan seluruh asmara memenuhi standar sanitasi dan higienitas lingkungan yang layak," tuturnya.Simak juga Video: Kemenhaj Bicara Rencana Pembentukan Embarkasi Haji Yogyakarta[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-04 00:47