TABANAN, - Cau Chocolates adalah sebuah perusahaan pengolahan biji kakao yang telah berdiri sejak 2014 di Tabanan, Bali.CEO Cau Chocolates I Kadek Surya Prasetya Wiguna mengawali bisnis ini dengan bimbingan ayahnya I Wayan Alit Artha Wiguna yang merupakan seorang penyuluh pertanian.Dengan semangat untuk memberikan kemudahan akses bagai petani kakao lokal untuk mendistribusikan hasil pertanian, Kadek mantap untuk keluar dari pekerjaan sebelumnya sebagai seorang bankir di salah satu bank pelat merah.Baca juga: Asa Petani Kakao, Tingkatkan Taraf Hidup Lewat Nikmat Produk CokelatCau Chocolates sendiri hadir dengan fokus untuk membina para petani untuk menghasilkan biji kakao dengan produktivitas dan kualitas tinggi.CEO Cau Chocolates I Kadek Surya Prasetya Wiguna menjelaskan, luas lahan petani binaan saat ini berkisar 300-400 hektare.Adapun, produksi biji kakao di Indonesia sendiri saat ini baru mencapai rata-rata 600 kg per hektare per tahun."Itu sangat kecil, seharusnya kami bisa mendorong mencapai 2 ton per hektare per tahun dengan menggunakan bibit dan pemupukan yang baik," ungkap dia./ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Sala satu petani dari Kelompok Tani Kakao Cipta Gemilang, Gede Suartama (60), mengecek kondisi buah kakao di kebun milik Cau Chocolates di Tabanan, BaliIa menceritakan, dalam kebun percontohkan milik Cau Chocolates satu hektare lahan bisa menghasilkan 1,5-1,7 ton per hektare per tahun.Dengan rata-rata harga biji kakao Rp 100.000 per kg, seorang petani bisa memeroleh Rp 150 juta per hektare per tahun."Artinya itu berarti petani bisa mendapatkan harga atau uang sampai dengan Rp 150 juta per tahun atau di atas 10 juta per bulan," ungkap Kadek.Dengan hasil tersebut, petani kakao di Indonesia bisa mencapai tahap kesejahteraan yang lebih baik.Baca juga: Produk Kakao Sabang Sudah Ekspor, Mentan: Ini Serangan Balik Ke EropaSaat ini, Kadek menceritakan, Cau Chocolates tengah dapat proses pengembangan pabrik pengolahan coklat yang lebih besar. Rencanaya pabrik ini bisa mengolah hingga 2 ton biji kakao per hari.Saat ini, Cau Chocolates baru dapat mengolah sekitar 300-500 kg biji per hari, atau sekitar 9-15 ton per bulan.Musim liburan akan mendorong produksi mengingat produk Cau Chocolates kerap diburu wisatawan asing dan domestik sebagai oleh-oleh.Sebagai gambaran, jumlah wisatawan yang berlibur ke Bali bisa mencapai 6-7 juta orang dalam setahun."Karena coklat ini memang merupakan komoditas yang sangat dihargai di luar negeri, yang banyak menggunakan produk kami memang orang-orang luar negeri," ucap dia.Perlu diketahui, tingkat konsumsi coklat masyarakat Indonesia masih berada di kisaran setengah kg per tahun, atau lebih tepatnya dalah 400-600 gram.Sementara, Swiss yang dikenal sebagai negara penghasil produk coklat berkualitas memiliki tingkat konsumsi sebesar 10 kg per kapita per tahun.
(prf/ega)
Strategi Coklat Cau Bikin Petani Kakao di Bali Sejahtera
2026-01-12 13:19:37
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 13:49
| 2026-01-12 12:53
| 2026-01-12 12:32
| 2026-01-12 11:27
| 2026-01-12 11:22










































