Tobatenun Beri Ruang Perempuan sebagai Artisan di Balik Ulos

2026-01-14 07:42:57
Tobatenun Beri Ruang Perempuan sebagai Artisan di Balik Ulos
- Di balik sehelai ulos Batak, terdapat tangan-tangan perempuan yang menenun dengan ketelitian, kesabaran, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Namun, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga teknik menenun, melainkan memastikan para penenun masih memiliki ruang untuk terus menjalani peran tersebut secara berkelanjutan.CEO Tobatenun, Kerri Na Basaria Pandjaitan, menuturkan bahwa rentang usia penenun yang terlibat sangatlah lebar, mulai dari 18 hingga 78 tahun. Banyak dari mereka sudah belajar menenun sejak usia sekolah dasar atau menengah, dari opung atau ibu mereka. Akan tetapi, pertanyaan terbesarnya adalah apakah mereka masih ingin dan mampu bertahan sebagai penenun di masa depan.“Range umur pengrajin kita cukup lebar, dari 18 sampai 78 tahun. Mereka belajar dari opung atau ibunya sejak masih SMP atau SD. Tapi masalahnya itu, mau tetap jadi penenun atau enggak,” kata Kerri saat ditemui dalam acara MAULIATE di Sopo Del Tower, Jakarta Selatan, Kamis .Baca juga: Tenun, Suara Perempuan yang Jadi Wajah Perlawanan Kebudayaan di NTTMenurut Kerri, keputusan untuk tetap menenun sering kali berkaitan dengan persoalan ekonomi. Tidak sedikit penenun yang akhirnya meninggalkan keterampilan tersebut karena merasa menenun belum memberi peluang yang cukup berkelanjutan bagi kehidupan mereka.“Karena secara opportunity, secara ekonomi, memang enggak selalu sustainable. Jadi akhirnya tergantung masing-masing,” ujarnya./Aliyah Shifa Rifai Koleksi wastra Tobatenun, tumtuman, dalam acara MAULIATE di Mega Kuningan Barat 3, Jakarta Selatan, Kamis .Situasi ini menjadi perhatian serius, terutama karena menenun bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat Batak. Kerri mengaku, sebelum mendirikan Tobatenun, ia banyak berdiskusi dengan tokoh adat dan budayawan di Sumatra Utara yang menggambarkan kondisi penenun dan kain tenun yang sama-sama memprihatinkan.Bukan hanya jumlah penenun yang terancam berkurang, tetapi juga nilai dan penghargaan terhadap kain tenun itu sendiri.“Saya banyak ngobrol dengan tokoh-tokoh dan budayawan yang memang sudah lama di ranah tenun di Sumatra Utara. Mereka menceritakan bahwa situasinya cukup memprihatinkan, dari penenunnya sendiri, ataupun kainnya,” cerita Kerri.Baca juga: Dari Tenun hingga Perhiasan, Begini 5 Cara Mudah Merawat Warisan Budaya NusantaraUpaya mengubah cara pandang terhadap penenun itulah yang coba diwujudkan Kerri bersama Tobatenun melalui pendampingan di berbagai wilayah Sumatra Utara. Pendampingan ini diarahkan agar para penenun tidak lagi diposisikan semata sebagai tenaga kerja produksi, melainkan sebagai artisan dengan identitas dan nilai seni.“Yang mau kita lakukan di sini, at least di Sumatra Utara, pendampingan kita tuh kita penginnya mereka punya ruang jadi artisan,” kata Kerri.Menurutnya, istilah “buruh tenun” kerap mereduksi makna dari proses menenun itu sendiri. Padahal, setiap penenun memiliki pengetahuan, keahlian, dan ekspresi artistik yang khas.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-14 07:34