Alasan Sheila Marcia Pilih Jujur pada Putrinya soal Dulu Pernah Hamil di Luar Nikah

2026-01-15 03:28:52
Alasan Sheila Marcia Pilih Jujur pada Putrinya soal Dulu Pernah Hamil di Luar Nikah
JAKARTA, - Aktris Sheila Marcia memilih jujur menceritakan masa lalunya pada Leticia Joseph, putrinya bersama musisi Anji.Walaupun dulu saat Leticia kecil, Sheila sempat berbohong tentang asal usul putrinya dengan menyebutnya berasal dari terigu dan telur, tapi Sheila mulai jujur bercerita ketika Leticia sudah dianggap cukup dewasa dan bisa menerima fakta tersebut. Sheila menceritakan caranya jujur bercerita tentang pengalaman masa lalu yang diharapkannya berhenti di dirinya dan tak terulang pada anaknya."Aku bilang kayak 'Tisya, you know, yang sebenarnya yang seharusnya, yang benar adalah perempuan dan laki-laki menikah, kemudian baru Tuhan karuniakan anak,'" ujar Sheila di Curhat Bang Denny Sumargo. Baca juga: Puji Sosok Ayah Sambung, Putri Sheila Marcia Ungkap Hal yang Buat Tersentuh"Nah karena kesalahannya mama, sebelum menikah mama sudah ada Tisya. Tapi Tisya enggak salah, yang salah mama yang berbuat," lanjutnya.Sheila mencoba memberikan pemahaman pada putrinya bahwa Leticia bukan kesalahan, karena Leticia adalah berkah dari Tuhan yang diciptakan dengan begitu penuh cinta."Tisya tetap ada karena Tuhan tenun Tisya with wholeheartedly, dengan cintanya Tuhan ke Tisya di wombnya mama," ucap Sheila tentang ucapannya saat memberi pengertian Leticia.Sheila juga mengakui bahwa tindakannya saat itu salah, semua orang bisa berbuat salah, tapi yang membedakan adalah cara mereka meresponsnya.Baca juga: Hampir Cerai 2 Tahun Lalu, Sheila Marcia dan Dimas Akira Kini Makin Lengket"Maksud aku adalah, ketika mama berbuat salah dan mama responsnya benar, tidak membuang Tisya, merawat Tisya dengan benar-benar hikmat dan benar-benar berserah sama Tuhan, mama percaya bahwa He will make you great," ucapnya."You can not change the past kan. Enggak bisa ganti yang sudah terjadi, tapi kamu bisa tentukan masa depan," kata Sheila."Mungkin kita akan dicaci maki, akan dihina dan segala macam, tapi pada akhirnya semuanya untuk kemuliaan Tuhan," kata Sheila."Dan sekali lagi, enggak cuma aku yang pernah melalui itu, dan enggak cuma Tisya yang melalui itu," imbuhnya."Setidaknya dia punya bekal nih dari Sheila sekarang yang untuk supaya dia bisa jaga diri jauh lebih baik daripada Sheila," ujar Sheila."You are the one who break the curse consciously. Kalau tidak ada lagi hamil di luar nikah di keluarga ini, from you, I said. Dan aku percaya itu harus di declare, harus diperkatakan. You are precious no matter what," jelasnya.Mendapat penjelasan di usianya yang sudah menginjak remaja dan sudah mendapat pendidikan yang cukup soal reproduksi membuat Leticia lebih mudah paham dan menerima semua perkataan Sheila. "Iya. Soalnya mama juga enggak mau Tisya sakit hati gitu loh (tahu) dari orang," kata Leticia. "Jadi Tisya kalau denger kayak 'ya udah sih kan itu juga udah lama kan.' Jadi Tisya ya enggak masalah," sambungnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-15 03:05