Ahli Konstruksi Ingatkan Pentingnya SNI dan SLF untuk Semua Gedung

2026-01-11 23:47:55
Ahli Konstruksi Ingatkan Pentingnya SNI dan SLF untuk Semua Gedung
JAKARTA, - Seluruh bangunan gedung harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar Layak Fungsi (SLF). Hal ini salah satunya guna memitigasi terjadinya kebakaran gedung.Hal ini menyusul terjadinya kebakaran gedung Terra Drone, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan fatality's tinggi, menelan puluhan korban nyawa."Kita punya SNI 03-1735-2000 yang mengatur akses bangunan dan akses lingkungan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung," kata Ahli Konstruksi yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Davy Sukamta kepada Kompas.com, Kamis .Baca juga: Ternyata Ini Penyebab Kebakaran Paling Banyak di JakartaDavy menjelaskan, bangunan yang lantainya terletak lebih dari 20 meter di atas permukaan tanah atau di atas permukaan jalur akses bangunan atau besmennya lebih 10 meter di bawah permukaan tanah atau permukaan jalur akses bangunan, harus memiliki saf untuk pemadam kebakaran yang berisi di dalamnya lif untuk pemadam kebakaran. "Selain tangga kebakaran, harus ada fire lift," ujar Davy.Sementara jika ingin mengubah gedung atau menambah jumlah lantai, pemilik gedung wajib mengajukan Peraturan Bangunan Gedung (PBG) baru."Karena perubahan kategori gedung berubah, harus memenuhi standar baru juga. Misal dulu di bawah 20 meter, kalau nambah jadi di atas 20 meter harus ada saf kebakaran dan struktur serta pondasi harus dikaji ulang," ucapnya.Sementara untuk SLF bangunan gedung juga harus diperbarui per 5 tahun.Sebelumnya, kebakaran hebat yang melanda gedung Terra Drone terjadi pada Selasa siang .Sebanyak 101 personel dengan 28 unit mobil pemadam dikerahkan untuk mengatasi kobaran api. Peristiwa tersebut pertama kali dilaporkan terjadi pada pukul 12.43 WIB, ketika sebagian karyawan masih berada di dalam gedung.Baca juga: Ahli Beberkan Dugaan Baterai Drone Picu Kebakaran Hebat di Terra DroneKebakaran gedung Terra Drone diduga bermula dari lantai satu. Sumber api diperkirakan berasal dari baterai yang terbakar. Para karyawan sempat mencoba memadamkan api secara mandiri, namun kobaran cepat membesar karena area lantai satu dipenuhi material yang mudah terbakar.Saat kejadian, sejumlah pegawai sedang beristirahat di lantai dua dan tiga. Asap pekat kemudian dengan cepat merambat hingga ke lantai enam, membuat kondisi semakin kacau dan menyulitkan evakuasi.Pakar kelistrikan bangunan sekaligus Ketua Bidang Standardisasi APPI (Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia), Helvin Herman Tirtadjaja, menjelaskan baterai yang kebanyakan berasal dari lithium memang sangat mudah terbakar."Bisa karena baterai (pemicu kebakaran cepat membesar), di mana kalau baterai terbakar itu akan terjadi thermal runaway," jelas Helvin saat dihubungi, Rabu .Baca juga: Temuan Jaring Bambu Murah dan Petaka Kebakaran Apartemen di Hong KongThermal runaway adalah reaksi berantai tak terkendali di mana panas yang dihasilkan, misalnya dari peningkatan suhu lithium-ion dari baterai drone, memicu pemanasan lebih lanjut.


(prf/ega)