Tragedi Kebakaran Panti Werdha Manado, Polisi Sebut 15 Jenazah Sulit Diidentifikasi

2026-02-08 20:19:53
Tragedi Kebakaran Panti Werdha Manado, Polisi Sebut 15 Jenazah Sulit Diidentifikasi
– Tragedi memilukan melanda Panti Werdha Damai di Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado, Sulawesi Utara, pada Minggu malam. Insiden kebakaran panti jompo tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan belasan lainnya luka-luka.Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Alamsyah P. Hasibuan mengonfirmasi bahwa mayoritas korban meninggal dunia ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan."Dari 16 korban ini, 15 tubuh korban hangus terbakar, sedangkan satu masih cukup utuh," ujar Alamsyah dalam press release di Manado, Senin .Peristiwa kebakaran di Manado ini dilaporkan terjadi sekitar pukul 20.36 Wita. Api diduga berasal dari bagian belakang bangunan dan merambat cepat ke seluruh area panti, menciptakan situasi mencekam bagi para penghuni yang mayoritas adalah lanjut usia (lansia).Proses evakuasi berlangsung dramatis. Warga sekitar dan relawan harus berjibaku dengan asap pekat untuk menyelamatkan para lansia yang memiliki keterbatasan fisik.Reki, salah seorang saksi mata yang membantu evakuasi, menceritakan bagaimana ia harus menggendong para penghuni panti melewati pagar.Baca juga: Kisah Relawan saat Evakuasi Korban Kebakaran Panti Werdha Damai Manado, Gotong Lansia di Kursi Roda Naik ke Pagar“Kami angkat satu per satu, ada yang sudah di kursi roda, kami naikkan ke pagar,” kata Reki dengan suara bergetar.Meski berhasil mengevakuasi tujuh orang, Reki mengaku terpukul karena beberapa di antaranya meninggal dunia akibat terlalu banyak menghirup asap."Ada seorang oma yang sempat bilang akan bertemu keluarganya tanggal 5 nanti, tapi dia meninggal dunia. Itu yang saya sesali," ucapnya pilu.Salah satu korban selamat, Lao Kiem Hoa (73) atau Ci Hoa, menceritakan detik-detik dirinya lolos dari maut. Saat api mulai berkobar, Ci Hoa sedang bersiap untuk tidur di kamarnya.Kepanikan memuncak ketika penjaga panti, Om Inyo, berteriak memperingatkannya untuk segera keluar. Dengan kondisi kaki yang lemah dan harus menggunakan walker, Ci Hoa nyaris terjebak api."Dia (Penatua Jhony) pikul saya keluar dari sana," tutur Ci Hoa lirih saat ditemui di IGD RSUD Manado.Sayangnya, rekan sekamar Ci Hoa, Oma Rini, yang dalam kondisi sakit dan tidak bisa bergerak, tidak berhasil menyelamatkan diri dalam tragedi tersebut.Ci Hoa kini menjalani perawatan intensif dan kehilangan seluruh harta bendanya.Baca juga: Kisah Damkar yang Menembus Asap Selamatkan Lansia di Kebakaran Panti Wreda Damai ManadoHingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan proses identifikasi terhadap 16 jenazah yang kini berada di RS Bhayangkara Manado. Kombes Pol Alamsyah menjelaskan bahwa proses identifikasi mengalami kendala teknis karena kondisi jenazah yang hangus terbakar.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-08 19:55