Menurut Foto NASA, Bulan Pernah “Retak” Miliaran Tahun Lalu

2026-01-12 06:12:52
Menurut Foto NASA, Bulan Pernah “Retak” Miliaran Tahun Lalu
- Gambar-gambar terbaru yang belum pernah dipublikasikan dari wahana Lunar Reconnaissance Orbiter Camera (LROC) milik NASA mengungkap fakta mengejutkan: kerak Bulan pernah meregang miliaran tahun lalu dan membentuk retakan. Retakan raksasa itu masih bisa dilihat hingga hari ini, membentuk pola melingkar yang indah sekaligus dramatis di permukaan Bulan.Retakan tersebut dikenal sebagai graben—lembah panjang yang terbentuk ketika kerak Bulan tertarik hingga merekah, bukan ditekan. Temuan ini memperkuat gambaran bahwa sejarah geologi Bulan jauh lebih dinamis daripada yang selama ini dibayangkan.Baca juga: Ilmuwan Akhirnya Memastikan Apa Isi BulanFokus utama penelitian ini adalah Mare Humorum, sebuah cekungan berbentuk lingkaran di wilayah barat daya sisi dekat Bulan atau sisi yang menghadap ke Bumi. Area ini dipenuhi basalt gelap, batuan vulkanik padat yang terbentuk dari aliran lava luas pada masa lampau.Penelitian pelacakan wahana antariksa dan studi kawah tumbukan menunjukkan bahwa lapisan basalt di pusat Mare Humorum lebih dari 3 kilometer tebalnya. Beban luar biasa ini menjadikan Humorum sebagai salah satu “uji tekanan alami” terbaik bagi kerak Bulan.Di bawah beban tersebut, dasar cekungan perlahan melengkung turun dan mengerut ke arah dalam. Ketika lava mendingin dan menyusut, tekanan justru menyebar ke luar dan menarik batuan yang lebih kuat di tepi cekungan. Tarikan inilah yang akhirnya menyebabkan kerak Bulan seolah retak.Baca juga: Cahaya Misterius di Bulan: Fenomena Aneh yang Membingungkan IlmuwanProses ini terjadi pada periode Imbrian, salah satu bab awal sejarah Bulan yang ditandai oleh tumbukan besar dan aktivitas vulkanik intens. Selama ratusan juta tahun, letusan gunung api terus memasok lava segar ke Mare Humorum.Ketika “laut lava” ini akhirnya stabil, cincin batuan di sekeliling cekungan pun retak mengikuti pola tertentu, membentuk serangkaian lembah panjang dan melengkung. Dari orbit, lembah-lembah ini tampak anggun, tetapi sebenarnya menyimpan kisah kekerasan geologi yang luar biasa.Baca juga: Foto Pertama Bumi dari Bulan: Momen Bersejarah 59 Tahun LaluSecara geologis, graben adalah lembah panjang yang terbentuk ketika satu blok kerak turun di antara dua patahan normal akibat gaya tarikan. Analisis terbaru menunjukkan bahwa graben adalah struktur tarik terbesar di Bulan dan umumnya terkonsentrasi di tepi cekungan mare seperti Humorum.Pemetaan global menggunakan data Lunar Reconnaissance Orbiter berhasil mengidentifikasi lebih dari 1.800 segmen graben hanya di sisi dekat Bulan. Banyak di antaranya membentang ratusan kilometer, meski lebarnya hanya beberapa kilometer.Studi umur menunjukkan bahwa sebagian besar graben besar terbentuk antara 3,7 hingga 3,4 miliar tahun lalu, dengan puncak aktivitas sekitar 3,6 miliar tahun yang lalu. Saat seluruh retakan ini terbentuk, jari-jari Bulan diperkirakan bertambah sekitar 120 meter, perubahan kecil namun menjadi bukti jelas bahwa Bulan pernah meregang secara global.Menariknya, sebuah graben beresolusi tinggi ditemukan kemungkinan terbentuk kurang dari 50 juta tahun lalu, menandakan bahwa kerak Bulan tidak sepenuhnya “mati” secara geologis.Baca juga: Mengapa Bulan Memiliki Dua Sisi yang Berbeda?Di sisi timur Mare Humorum terdapat sistem lembah bernama Rimae Hippalus—tiga graben utama yang melengkung membentuk cincin terputus sepanjang lebih dari 240 kilometer.Setiap lembah mencerminkan tahap berbeda dari respons kerak terhadap tenggelamnya laut lava. Graben paling dalam memiliki dinding tajam dan penurunan jelas, menunjukkan sedikit gangguan setelah terbentuk. Sementara itu, graben yang lebih luar tampak lebih dangkal dan tidak setajam, menandakan bahwa lava kemudian sempat merembes dan mengisi sebagian retakan lama.Gambar miring terbaru dari LROC memungkinkan para peneliti melihat ketiga lembah ini dalam satu perspektif utuh, bukan potongan-potongan dari atas. Sudut pandang ini membantu ilmuwan memahami urutan runtuhnya kerak secara lebih detail.Baca juga: Misteri Butiran Kaca Oranye di Bulan Terungkap Setelah 50 TahunMenurut Thomas Watters, ilmuwan planet dari Smithsonian’s National Air and Space Museum, Bulan secara umum memang sedang menyusut akibat pendinginan interiornya.


(prf/ega)