21 Orang Dirawat Imbas Kebakaran Paviliun KTT COP30 Brasil

2026-01-15 23:19:53
21 Orang Dirawat Imbas Kebakaran Paviliun KTT COP30 Brasil
Kementerian Kesehatan Brasil mengatakan sebanyak 21 orang dirawat imbas kebakaran salah satu Paviliun di COP30. Tidak ada korban mengalami luka bakar."Berdasarkan data yang diperbarui hingga pukul 18.00, 21 orang menerima perawatan akibat kebakaran yang melanda Zona Biru acara tersebut," kata Pusat Terpadu Operasi Kesehatan Gabungan (CIOCS), Kamis (20/11/2025).Dari 21 orang korban tersebut, 19 di antaranya dirawat akibat menghirup asap. Sementara dua lainnya dirawat karena panik."Tidak ada laporan korban luka bakar akibat kebakaran. Para pasien segera ditangani dan 12 orang telah dipulangkan. Pasien lainnya menerima bantuan yang memadai di layanan kesehatan di Belém dan di unit rujukan untuk kasus-kasus ini," imbuh CIOCS.Tim kesehatan terus memantau para korban yang dirawat. CIOCS dikoordinasikan oleh Kementerian Kesehatan Brasil yang bekerja sama dengan tim kesehatan negara bagian utara, Para dan Kota Belem.Sebelumnya, salah satu Paviliun di depan Paviliun Indonesia, tepatnya di belakang Paviliun Italia kebakaran sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Api berhasil dipadamkan dalam waktu enam menit.Tonton juga video "21 Orang Dirawat Imbas Kebakaran Paviliun COP30 Brasil"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Lainnya

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-15 22:16