Jaga-jaga Diserang China, Taiwan Borong Senjata AS Rp 184 Triliun

2026-02-06 22:39:41
Jaga-jaga Diserang China, Taiwan Borong Senjata AS Rp 184 Triliun
WASHINGTON DC, – Amerika Serikat (AS) menyetujui penjualan senjata senilai 11 miliar dollar AS atau sekitar Rp 184 triliun kepada Taiwan.Persetujuan ini menjadi paket penjualan senjata kedua sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat, sebagaimana diumumkan pemerintah Taiwan pada Kamis .Penjualan ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan militer China terhadap Taiwan.Baca juga: Soal Taiwan, Beijing Sebut Indonesia Berkomitmen Prinsip Satu ChinaAFP PHOTO/NATIANNA STRACHEN Kapal permukaan tak berawak (USV) Angkatan Laut AS, Saildrone Explorer.Kementerian Luar Negeri Taiwan menyatakan, paket penjualan tersebut mencakup sistem roket HIMARS, howitzer, rudal antitank, drone, serta suku cadang untuk berbagai peralatan militer lainnya.Nilai kesepakatan ini mendekati rekor penjualan senjata AS ke Taiwan pada 2001 yang mencapai 18 miliar dolar AS (sekitar Rp 301 triliun) di era Presiden George W Bush, meskipun saat itu nilainya akhirnya dipangkas setelah negosiasi komersial.Sementara itu, Kementerian Pertahanan Taiwan menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut diperkirakan resmi berlaku dalam waktu sekitar satu bulan.Amerika Serikat memang tidak mengakui Taiwan sebagai negara, namun tetap menjadi pendukung keamanan terbesar.Pasokan senjata dari Washington dipandang sebagai faktor penangkal penting terhadap potensi serangan China, yang mengeklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan mengancam akan menggunakan kekuatan untuk membawa pulau itu di bawah kendalinya.“Ini adalah penjualan senjata kedua ke Taiwan yang diumumkan selama masa jabatan kedua pemerintahan Trump, sekali lagi menunjukkan komitmen kuat Amerika Serikat terhadap keamanan Taiwan,” kata Kementerian Luar Negeri Taiwan dalam pernyataannya.Baca juga: Trump Sarankan PM Jepang Tak Ikut Campur soal Taiwan, Bela Xi Jinping?Meski demikian, penjualan senjata itu masih harus mendapatkan persetujuan Kongres Amerika Serikat.Namun, proses tersebut dinilai tidak akan menemui hambatan berarti mengingat adanya konsensus lintas partai di Washington terkait pentingnya pertahanan Taiwan.Pemerintahan Presiden Taiwan Lai Ching-te telah berjanji untuk meningkatkan belanja pertahanan, seiring China terus mempertahankan tekanan militer di sekitar pulau tersebut.Taiwan memiliki industri pertahanan sendiri, namun dalam skenario konflik dengan China, kemampuan militernya dinilai akan jauh tertinggal.Karena itu, Taiwan hingga kini tetap sangat bergantung pada persenjataan AS untuk menjaga kemampuan pertahanannya.Baca juga: Presiden Taiwan Sindir Xi Jinping: Fokus Perbaiki Ekonomi, Bukan Ekspansi Wilayah


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Namun, mengingat harga merupakan aspek yang sensitif bagi beberapa pasar berkembang, seperti Indonesia maupun India, vendor ponsel kabarnya bakal menggunakan strategi lain, selain kenaikan harga.Menurut bocoran yang dibagikan di blog Naver Korea Selatan, vendor ponsel kemungkinan memangkas RAM HP. Karena itu, beberapa ponsel dengan RAM 16 GB kemungkinan menjadi produk yang cukup langka.Sebaliknya, ponsel dengan RAM 4 GB justru akan lebih mendominasi ketimbang saat ini. Bocoran itu juga menyebutkan bahwa ponsel dengan RAM 12 GB bisa dipangkas hingga 40 persen, hingga menjadi 6 GB atau 8 GB. Sementara model yang biasanya dibekali RAM 8 GB, dipotong hingga 50 persen menjadi 4 GB atau 6 GB.Sayangnya, walaupun konfigurasi RAM beberapa ponsel tahun depan dipangkas, harganya tetap lebih mahal dibanding model sebelumnya, dilansir Gizmochina.Adapun kenaikan harga HP terjadi sebagian besar karena meningkatnya pemintaan memori di berbagai industri termasuk untuk data center kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga menimbulkan kelangkaan pasokan.Hal tersebut juga diamini oleh Xiaomi, hingga menyatakan bahwa harga produknya tahun depan meningkat.Baca juga: Ini Sebab Harga Memori RAM di Indonesia NaikXiaomi sudah mengumumkan rencana kenaikkan harga smartphone baru mulai tahun depan. Pengumuman ini disampaikan oleh Presiden Xiaomi, Lu Weibing dalam konferensi pers terkait laporan pendapatan perusahaan pada November 2025 lalu.Ia mengataka bahwa keputusan ini diambil karena semakin mahalnya harga chip memori, akibat melonjaknya permintaan untuk server kecerdasan buatan (AI).Tingginya permintaan chip memori untuk server juga membuat perusahaan seperti Samsung, memangkas produksi chip memori termasuk untuk ponsel, dan mengalihkannya ke memori bandwidth tinggi (high bandwidth memory).Xiaomi Redmi Note 15 Pro 5G.

| 2026-02-06 21:38