Membayangkan Indonesia Tanpa Guru Penulis, Apa Jadinya?

2026-02-04 10:35:58
Membayangkan Indonesia Tanpa Guru Penulis, Apa Jadinya?
Beberapa hari lalu saya mengisi sesi khusus menulis untuk widyabasa --garda bahasa dan sastra Indonesia-- di Badan Bahasa.Ketika hendak meninggalkan ruangan, saya melihat buku Kang Yudi Latif, Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia. Ada satu eksemplar tersisa untuk saya beli.Sehari kemudian, barulah Kang Yudi Latif mengisi juga di kelas widyabasa yang sama. Saya tak sempat bersua. Topiknya pastilah tentang apa jadinya dunia tanpa bahasa Indonesia.Saya pun terpikir menulis apa jadinya Indonesia tanpa guru penulis. Mari memulai dengan peristiwa terbaru saat ini.Bencana adalah sebuah refleksi. Hari-hari terakhir ini masyarakat Indonesia disuguhi oleh berita duka terkait dengan bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.Sebagai Gen-X, saya teringat dulu pelajaran tentang lingkungan di mapel IPA dan IPS. Selalu ditekankan bahaya penggundulan hutan dan perlunya penanaman pohon kembali (reboisasi).Buku-buku pelajaran memuat tentang pesan bahayanya penggundulan hutan yang bakal menyebabkan erosi. Harus ada gerakan reboisasi. Pelajaran itu saya terima pada era 1980-an. Kini pada era 2020-an, bencana demi bencana terus terjadi. Entahlah apakah pelajaran tentang kesadaran lingkungan hanya wacana belaka.Beberapa novel anak yang saya baca juga sering memasukkan konteks cerita penebangan hutan (pembalakan) liar yang menampilkan tokoh-tokoh antagonis para perusak hutan. Semua hal yang dituliskan itu saya pelajari sebagai mitigasi dan dampak luar biasa yang bakal terjadi.Pada hari-hari ini bencana itu benar-benar terjadi. Sekolah-sekolah hancur dan guru-guru "menganggur". Murid-murid tak lagi dapat belajar. Buku-buku telah hanyut bersama banjir.Apa yang dapat dilakukan oleh seorang guru penulis? Sebuah cerita pun dapat digagas tentang robohnya sekolah kami akibat bencana yang sudah diperingatkan jauh-jauh hari. Seorang guru dimungkinkan menuliskan cerita duka ini sebagai pembelajaran untuk murid-muridnya dan anak-anak masa mendatang. Seorang guru dapat pula menuliskan peristiwa duka ini menjadi cerita yang inspiratif tentang bagaimana mereka dapat bertahan di tengah situasi yang mencekam.Sungguh betapa mahal pembelajaran yang kita terima dari bencana. Dari sisi ini saya menulis tentang peran guru dalam mencermati peristiwa, fenomena, dan momentum untuk dituliskan agar tak lekang di dalam ingatan dari generasi ke generasi. Saat Musyawarah Nasional Ikatan Penerbit Indonesia, 28 November 2025, Mendikdasmen Abdul Mu'ti sebagai pembicara kunci menyebut peran besar penerbit dan penulis dalam membentuk generasi pemelajar.Dengan tantangan menghadapi generasi saat ini maka buku itu harus menarik sekaligus berdampak. Dalam istilah saya, memiliki daya gugah, daya ubah, dan daya indah.Seperti konteks daya indah, Menteri Mu'ti menyentil buku-buku teks yang tidak handy (mudah dibawa) karena berukuran besar dan tebal. Buku dengan desain yang tidak eye catching karena terlalu padat, miskin visual, atau terkesan seperti desain tempo dulu. Namun, saya dapat memahami mengapa buku-buku teks yang terbit kini itu besar dan tebal karena tuntutan kurikulum juga sangat padat.Meskipun ada pendekatan buku teks pendamping, yang memungkinkan penerbit fokus pada satu capaian pembelajaran, tidak ada penerbit yang berminat menerbitkannya. Soalnya, dari sisi pasar, sekolah (guru) menginginkan buku yang lengkap dan tuntas.Lengkap dan tuntas itu selalu berhubungan dengan ketebalan dan ukuran buku. Biar buku mencakup semua capaian pembelajaran dan tidak menjadi sangat tebal maka ukuran buku diperbesar, apalagi untuk menyediakan ruang yang cukup bagi visualisasi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 10:05