Industri Fintech Bentuk Konsorsium Antifraud Pertama di RI

2026-01-13 16:42:40
Industri Fintech Bentuk Konsorsium Antifraud Pertama di RI
JAKARTA, – Upaya memperkuat keamanan ekonomi digital memasuki babak baru setelah PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) resmi menggagas pembentukan Fraud Detection Consortium (FDC). Inisiatif bersama ini diumumkan dalam Mandiri BFN Fest 2025 di Jakarta, Kamis .FDC menjadi jaringan intelijen fraud lintas industri pertama di Indonesia yang dirancang untuk menyatukan data risiko dan meningkatkan respons atas serangan siber di sektor fintech dan layanan keuangan digital. Langkah ini hadir di tengah pesatnya transaksi digital yang pada triwulan III 2025 mencapai 12,99 miliar, tumbuh 38,08 persen secara tahunan.Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menegaskan pentingnya kolaborasi industri untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks.“Melawan fraudster yang terorganisasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Industri membutuhkan wadah penyelarasan standar keamanan dan pertukaran insight. Ini adalah langkah konkret AFTECH dan Jalin untuk melindungi ekosistem fintech agar tumbuh sehat dan tepercaya,” ujarnya, melalui keterangan pers, Kamis .Baca juga: BFN Fest 2025 Jadi Ajang Pemulihan Kepercayaan Publik di Tengah Maraknya Kejahatan DigitalSecara konsep, FDC akan mengonsolidasikan sinyal risiko dari berbagai entitas sehingga data fraud yang selama ini terfragmentasi dapat dipetakan lebih utuh.Mekanisme ini diharapkan menutup blind spot yang sering membuat indikasi serangan terlambat terdeteksi. Ke depan, FDC juga akan disinergikan dengan inisiatif nasional antiscam guna memperluas cakupan deteksi.Tahap awal pengembangan konsorsium dimulai melalui adopsi Jalin Fraud Management System (FMS) berbasis shared infrastructure. Sistem ini akan diterapkan bertahap kepada anggota AFTECH dan jaringan member Jalin sebagai fondasi teknis FDC.Baca juga: BNI (BBNI) Tekan Risiko Fraud Lewat Penguatan Sistem AntikorupsiDirektur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, menyampaikan bahwa fondasi teknologi menjadi tulang punggung upaya antifraud industri.“Visi strategis FDC membutuhkan fondasi teknologi yang kokoh, dan di situlah FMS Jalin berperan sebagai enabler. Dengan pendekatan shared infrastructure, FMS membuka akses kapabilitas pertahanan yang setara bagi seluruh pelaku sehingga industri dapat menghadapi pola ancaman yang semakin canggih dengan kesiapan yang sama kuat,” kata Ario.Implementasi FDC dan FMS diharapkan memperkuat maturitas keamanan fintech nasional. Uji coba bertahap akan dilakukan sembari berdialog dengan regulator untuk memastikan kesiapan operasional ekosistem.AFTECH, yang ditunjuk OJK sebagai asosiasi Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, menegaskan komitmennya mendorong ekosistem digital yang inklusif dan berintegritas melalui program kerja 2025–2029.Sementara itu, Jalin sebagai bagian dari Holding BUMN Danareksa dan Telkom Indonesia terus memperluas interoperabilitas layanan pembayaran serta mendukung efisiensi operasional perbankan melalui infrastruktur digitalnya.Baca juga: Adopsi Fintech Masih Terpusat di Jawa, AFTECH Dorong Pemerataan Literasi Lewat INFINITYSebagai informasi, Mandiri BFN Fest 2025 resmi dibuka pada Rabu sebagai puncak Bulan Fintech Nasional (BFN), namun tahun ini dinilai memiliki nuansanya berbeda.Di tengah lonjakan laporan kejahatan digital, acara yang digagas Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Bank Mandiri dan Privy itu berubah menjadi panggung untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap layanan keuangan digital, bukan sekadar merayakan inovasi fintech.Ketua Umum AFTECH Pandu Sjahrir menegaskan bahwa BFN Fest menjadi lanjutan dari dialog strategis nasional yang sebelumnya berjalan dalam FEKDI dan IFSE 2025. BFN Fest disebutnya bukan sekadar expo terbesar, tetapi sarana untuk mengembalikan keyakinan publik bahwa industri fintech bisa berkembang secara aman.


(prf/ega)