Jemaah Umrah Asal Magelang Dilaporkan Hilang di Mekah

2026-02-04 23:47:07
Jemaah Umrah Asal Magelang Dilaporkan Hilang di Mekah
MAGELANG, - Seorang jemaah umrah asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bernama Sugiyo bin Mangun Sukarto dilaporkan hilang di Makkah, Arab Saudi.Laki-laki berusia sekitar 60 tahun itu seharusnya dijadwalkan tiba di Indonesia pada Minggu, 9 November 2025.Sugiyo merupakan warga Krajan 2 RT 14/RW 04, Kelurahan/Kecamatan Secang. Ia berangkat umrah menggunakan biro perjalanan dari Kota Surakarta bernama Hajar Aswad Mubaroq.Baca juga: Jemaah Haji Asal Banjarmasin yang Hilang di Mekah Punya Riwayat DemensiaAhmad Zainudin (46), adik ipar Sugiyo, mengatakan kakak iparnya berangkat ke Tanah Suci dari Bandara Adi Soemarmo pada 1 November 2025.Pada Rabu sore , Sugiyo dilaporkan hilang."Lost telepon Selasa sore. HP-nya sudah tidak bisa dihubungi," ujar Zainudin kepada Kompas.com, Rabu .Menurut keterangan biro umrah, Sugiyo terlihat meninggalkan hotel sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Kepergiannya dari tempat penginapan itu terekam kamera pemantau (CCTV).Zainudin menyebut keluarga sudah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh untuk mencari keberadaan Sugiyo."Sudah dicari di rumah sakit dan ruang jenazah juga tidak ada," ucapnya.Baca juga: Jemaah Haji Asal Bogor yang Meninggal di Mekah Sempat Dirawat di RS MinaSugiyo diketahui memiliki riwayat penyakit darah tinggi. Meski demikian, sebelum berangkat umrah ia telah lolos tes kesehatan dan membawa obat-obatan yang harus diminum setiap hari.Adapun jemaah umrah yang berangkat bersama Sugiyo telah tiba di Tanah Air pada 9 November 2025."Kopernya Pak Sugiyo juga sudah diambil anaknya yang kerja di Solo," pungkas Zainudin.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-04 22:53