JAKARTA, - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengungkap alasan menjadikan Presiden ke-4 Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan tokoh buruh Marsinah sebagai nama gedung dan ruangan pelayanan publik di Kantor Kementerian HAM.Pigai menyebutkan, Gus Dur adalah negarawan Indonesia dan pemimpin intelektual dunia yang unggul dalam mempromosikan perdamaian, keadilan, kesejahteraan, serta menentang diskriminasi, rasisme, dan ketidakadilan.“Dari ujung Papua ketika orang Papua menyampaikan pendapat, pikiran, dan perasaan tentang ketidakadilan, Gus Dur hadir. Ketika orang Aceh menyanyikan hal yang sama, Gus Dur di situ hadir,” ujar Pigai di kantornya, Selasa .Baca juga: Gus Dur dan Marsinah Jadi Nama Gedung dan Ruangan di Kantor Kementerian HAM“Orang dari Tionghoa menyampaikan, Gus Dur juga hadir. Orang dari komunitas agama yang lain menyampaikan, Gus Dur selalu hadir. Gus Dur itu beyond di atas segalanya,” ujar dia.Dengan begitu, Pigai menilai Gus Dur sebagai tokoh bangsa yang melampaui batas agama, suku, wilayah, dan negara.Ia menyebutkan, Gus Dur telah menabrak tembok-tembok kejahatan dalam perjalanan hidupnya.Baca juga: Soeharto Diberi Gelar Pahlawan, Pigai: Saya Menteri HAM, No Comment!“Karena simbol Gus Dur, semua orang yang akan masuk gedung ini, mereka harus berpijak bahwa mereka sedang masuk dalam kalbu Gus Dur, mereka masuk dalam jiwa Gus Dur, mereka masuk dalam semangat Gus Dur, mereka masuk dalam nilai-nilai yang ditanamkan oleh Gus Dur,” jelas dia.Setelah ini, Pigai berencana mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) HAM tentang pemberian nama Gedung Kementerian HAM menjadi Gedung Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Kementerian HAM.“Nanti kami juga akan bikin foto atau replika Gus Dur, terbuat dari tembaga, di depan sini. Nanti di pinggir juga kita akan… pada saat renovasi gedung ini, kami akan bikin namanya kantor Kementerian HAM Republik Indonesia, baru di bawahnya adalah Gedung Kiai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur,” kata dia.Baca juga: Pigai Sebut Revisi UU HAM Akan Perkuat Komnas HAMSementara itu, Pigai menamai Ruang Pelayanan Publik dengan nama Marsinah karena sosok tersebut dikenal sebagai tokoh yang berkorban demi memperjuangkan keadilan, martabat, serta hak-hak kaum buruh dan pekerja.“Dia meninggal, dia mati demi memperjuangkan keadilan,” ucap Pigai.Oleh karena itu, ruang pelayanan ini menjadi simbol agar setiap pengadu yang datang, ketika melihat wajah Marsinah, menanamkan semangat untuk berjuang dan menuntut keadilan.“Bagi seluruh staf yang akan bertugas di sini, mereka juga harus merasakan bahwa mereka yang datang untuk melaporkan kepada Kementerian HAM ini adalah orang-orang yang memperjuangkan keadilan,” kata dia.Baca juga: Gus Dur Jadi Pahlawan karena Perjuangan Kemanusiaan, Bukan Jabatan PresidenSaat ditanya mengapa tidak memakai nama Presiden ke-2 Indonesia Soeharto sebagai nama gedung atau ruangan, Pigai tidak menjawab dengan gamblang.Padahal Soeharto juga termasuk salah satu tokoh selain Gus Dur dan Marsinah yang menerima gelar pahlawan nasional dari pemerintah pada Senin .“Diteruskan saja penjelasannya di awal, I love you,” kata dia singkat.
(prf/ega)
Alasan Pigai Tetapkan Gus Dur dan Marsinah Jadi Nama Gedung-Ruangan di Kementerian HAM
2026-01-12 06:51:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:09
| 2026-01-12 05:52
| 2026-01-12 05:21
| 2026-01-12 05:15
| 2026-01-12 05:00










































