Refleksi Kecelakaan Maut Tol Krapyak, dan Target Zero Accident Nataru

2026-01-11 23:26:54
Refleksi Kecelakaan Maut Tol Krapyak, dan Target Zero Accident Nataru
JAKARTA, - Jelang pergantian tahun, Indonesia kembali dihadapkan pada tantangan besar manajemen mobilitas nasional bertajuk mudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).Namun, suasana persiapan kali ini terasa lebih mendesak dan sarat akan evaluasi mendalam.Bayang-bayang tragedi kelam Simpang Susun (SS) Krapyak Km 419 di Tol Batang-Semarang yang merenggut 16 nyawa pada Minggu pukul 00.45 WIB, menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk tidak sekadar mengelola kemacetan, melainkan memerangi angka kematian di jalan raya.Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, menegaskan, target utama pemerintah tahun ini bukan lagi sekadar kelancaran arus, melainkan sebuah misi meminimalisasi angka kecelakaan atau bahkan nol alias zero accident dengan nol korban atau zero fatality.Baca juga: Pasca Bencana Banjir, Normalisasi Sungai Batang Sumpur DipercepatTragedi Tol Batang-Semarang KM 419 yang menewaskan 16 orang tersebut menjadi titik balik krusial dalam kebijakan transportasi Indonesia.Kecelakaan yang melibatkan kendaraan angkutan penumpang tersebut mengungkap tabir mengenai kerentanan jalur Tol Trans Jawa saat memasuki fase kelelahan pengemudi dan fenomena jalan tol yang lurus namun mematikan.Peristiwa ini bukan sekadar angka statistik, melainkan potret nyata betapa tingginya risiko nyawa yang dipertaruhkan setiap kali musim mudik tiba.Kejadian tersebut memicu perdebatan nasional mengenai standarisasi keselamatan angkutan umum serta pengawasan ketat terhadap jam kerja pengemudi yang selama ini kerap terabaikan.Jika kita menarik garis dalam lima tahun terakhir, tren kecelakaan di jalan tol Indonesia menunjukkan pola yang fluktuatif namun tetap pada angka yang mengkhawatirkan.Baca juga: Strategi Rafflesia Group Sambut Nataru, Siagakan SPLKU TerbesarPada tahun 2020 hingga 2021, saat pandemi melanda, jumlah kecelakaan memang menurun seiring pembatasan mobilitas, dengan angka kematian di jalan tol berada di kisaran 400-500 jiwa secara nasional.Namun, ledakan mobilitas pasca-pandemi pada 2022 hingga 2024 menunjukkan eskalasi yang signifikan.Data mencatat bahwa pada tahun 2023, angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas di jalan tol menyentuh angka lebih dari 700 jiwa.Mayoritas kecelakaan tersebut didominasi oleh tabrak belakang yang melibatkan truk Over Dimension Over Load (ODOL) serta kecelakaan tunggal akibat faktor human error dan microsleep.Tragedi Batang-Semarang dengan 16 korban jiwa dalam satu kejadian praktis menempatkan tahun 2025 sebagai tahun dengan tingkat fatalitas per kejadian yang sangat tinggi, memaksa pemerintah melakukan langkah-langkah di luar kebiasaan.Baca juga: Estimasi Tarif Tol Jakarta-Surabaya setelah Diskon Libur Nataru 2025Kepada Kompas.com, Menhub menyampaikan bahwa target zero accident dan zero fatality memang terdengar mustahil secara statistik, namun wajib dijadikan kompas moral dalam operasional lapangan.


(prf/ega)