Di Balik Cerita Jolakotturinn, Si Kucing Raksasa Pemangsa Anak Nakal Saat Natal

2026-01-12 11:18:30
Di Balik Cerita Jolakotturinn, Si Kucing Raksasa Pemangsa Anak Nakal Saat Natal
- Mendirikan pohon Natal dan bertukar kado merupakan tradisi perayaan Natal yang mungkin dilakukan oleh sebagian besar masyarakat dunia.Namun, ada sebuah tradisi Natal di Eropa, lebih tepatnya di Islandia, yang cukup unik dengan latar belakang yang menyeramkan.Tradisi tersebut adalah menaruh pakaian lama di luar rumah. Tradisi ini berkaitan dengan kisah seekor kucing bernama Jolakotturinn. Baca juga: 5 Tradisi Perayaan Natal yang Aneh di DuniaMengutip History Extra, Selasa , Jolakotturinn adalah seekor kucing yang disebut dengan Kucing Natal (Yule Cat).Dalam mitologi Islandia, kucing ini digambarkan sebagai hewan yang sangat besar, mengerikan, dan ganas. Hewan berkaki empat itu suka berkeliaran di pedesaan yang tertutup salju selama musim Natal untuk memangsa manusia.Jolakotturinn pertama kali tercatat pada abad ke-19. Ia disebut sangat terkait dengan lanskap Islandia dan musim dinginnya yang brutal.Dalam mencari mangsa, ia tidak memilih korban secara acak. Justru, ia menargetkan masyarakat Islandia yang belum menerima pakaian baru sebelum Natal tiba.Cara Jolakotturinn mencari mangsa, dan eratnya kaitan sosok kucing ini dengan lanskap dan musim dingin Islandia, dapat ditelusuri kembali pada ketergantungan negara tersebut pada produksi wol.Peternakan domba sangatlah penting bagi ekonomi Islandia. Untuk mempersiapkan wol untuk bulan-bulan musim dingin, kerja keras ekstra sangat dibutuhkan menjelang musim dingin.Para pekerja yang dengan tekun berkontribusi pada tugasnya akan diberi hadiah berupa pakaian hangat yang terbuat dari wol yang baru dikumpulkan. Hadiah itu sangatlah penting, mengingat iklim Islandia yang keras.Sementara itu, pekerja yang mengabaikan tugas atau dianggap malas, berisiko mendapatkan lebih dari sekadar dipandang buruk, tetapi juga tidak akan menerima pakaian baru.Baca juga: Rekomendasi Outfit Natal, Tampil Modis dan EleganMenurut kisah Jolakotturinn, siapapun yang tidak mendapatkan pakaian baru pada malam sebelum Natal, mereka akan menjadi korban kucing raksasa yang nakal ini.Siapapun yang tidak mendapatkan pakaian baru itu menyiratkan kurangnya ketekunan seseorang pada musim dingin.Melalui sudut ini, mitos Jolakotturinn memiliki dua tujuan moral. Pertama adalah sebagai pengingat akan pentingnya menjalankan kewajiban.Tujuan moral kedua, kisah kucing raksasa ini merupakan penguatan kebutuhan kolektif masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi musim dingin.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 09:30