Di Depan Pintu yang Tak Terbuka, Ibu Prada Lucky Memanggil Komandan yang Tak Menoleh

2026-01-12 06:15:22
Di Depan Pintu yang Tak Terbuka, Ibu Prada Lucky Memanggil Komandan yang Tak Menoleh
KUPANG, — Suara tangis seorang ibu pecah di lorong sempit Pengadilan Militer III-15 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin .Di atas kursi kayu yang mulai kusam termakan usia, Sepriana Paulina Mirpey duduk sambil memeluk kedua tangannya.Matanya sembab, wajahnya memerah dan suaranya bergetar menahan duka yang sejak setahun terakhir tak juga menemukan tempat untuk berlabuh.Hari itu, Sepriana hanya ingin satu hal, bersalaman dengan Komandan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere (Yonif TP 834/WM), Letnan Kolonel Infanteri Justik Handinata.Baca juga: Komandan Yon TP Mengakui Sempat Periksa Kondisi Prada Lucky Sebelum MeninggalSatu sentuhan tangan yang baginya bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk pertanggungjawaban moral atas kematian putranya, Prada Lucky Chepril Saputra Namo.Namun, permintaan sederhana itu tak mendapat jawaban.“Kami menunggu hanya untuk pegang tangan,” katanya sambil ditenangkan sejumlah keluarga.Mengenakan baju putih dan celana panjang abu-abu, Sepriana duduk di depan pintu ruang saksi yang dijaga petugas Provos.Dia ditemani kakak perempuan, dua putranya yang masih kecil serta keluarga lainnya.Dia terus menyebut nama Letnan Kolonel Infanteri Justik Handinata yang tak kunjung keluar.“Kami menunggu hanya untuk pegang tangan. Ternyata komandan batalyon egonya seperti ini,” katanya sambil menangis.Baca juga: Ibu Prada Lucky Kecewa Danyon 834/WM Enggan Bersalaman: “Anda Punya Hati dari Batu?”Di balik pintu ruangan itu, Letkol Justik tengah berada di dalam. Tetapi ia tak tampak bergeming mendengar panggilan ibu yang kehilangan anak kesayangannya itu.“Kasih keluar Danyon. Saya hanya mau omong dengan dia,” teriaknya.“Anak saya mati di batalyon yang dia pimpin. Dia mau selamatkan pangkat, jabatan dan harga diri. Dia biarkan anak saya disiksa berhari-hari. Kasih keluar dia tu!”Kata-katanya memantul di dinding koridor pengadilan yang dingin. Tangis dan kemarahan itu menyatu, membentuk potret paling manusiawi dari seorang ibu yang kehilangan.


(prf/ega)