Kasus Pembunuhan Guru Melani di Yahukimo, Pelaku Tidak Terkait KKB

2026-02-05 11:42:52
Kasus Pembunuhan Guru Melani di Yahukimo, Pelaku Tidak Terkait KKB
YAHUKIMO, - Kepolisian Daerah (Polda) Papua memberikan apresiasi tinggi atas peran aktif masyarakat dalam mengungkap kasus pembunuhan tragis seorang guru, Melani Wamea, di Distrik Holuwon, Kabupaten Yahukimo. Pelaku berinisial EB kini telah diserahkan warga kepada aparat kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.Penyerahan pelaku dilakukan oleh masyarakat Distrik Holuwon pada Minggu sekitar pukul 10.00 WIT. Langkah kooperatif warga ini dinilai sebagai wujud kesadaran hukum yang tinggi di wilayah tersebut."Ini adalah bentuk nyata kesadaran hukum masyarakat dan wujud sinergi yang solid antara Polri dan warga,” ungkap Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, dalam keterangan tertulisnya, Minggu sore.Baca juga: Keluarga Minta Pelaku Penyerangan terhadap Guru Melani di Yahukimo Diusut TuntasKombes Cahyo menjelaskan bahwa peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Jumat, 10 Oktober 2025 silam, sekitar pukul 11.09 WIT. Setelah penyelidikan intensif oleh Satreskrim Polres Yahukimo, warga akhirnya memilih menyerahkan pelaku secara langsung.Setelah diserahkan, pelaku EB langsung menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUD Dekai. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa pelaku dalam kondisi sehat, baik secara jasmani maupun rohani.“Saat ini, EB sudah berada di ruang Satreskrim Polres Yahukimo untuk pemeriksaan lanjutan. Penyidik sedang melengkapi administrasi penyidikan guna memastikan proses hukum berjalan profesional, transparan, dan sesuai aturan yang berlaku,” jelas Cahyo.Baca juga: Kurang dari 24 Jam, 2 Warga Diserang OTK di Yahukimo, Korban Tewas dan KritisKasus pembunuhan Guru Melani Wamea sempat menjadi sorotan publik. Guru di Sekolah John Wilson tersebut meninggal dunia saat hendak mengajak anak-anak muridnya menanam pohon di lokasi yang tak jauh dari sekolah.Pihak kepolisian menegaskan bahwa kasus ini murni merupakan tindakan kriminalitas dan tidak berkaitan dengan aktivitas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang ada di Kabupaten Yahukimo.Teka-teki meninggalnya Guru Melani kini menemukan titik terang. Polda Papua mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung penegakan hukum demi terciptanya situasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) yang kondusif di Tanah Papua.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-05 10:07