KLH Akui Belum Tahu Asal Muasal Radioaktif yang Kontaminasi Cengkih Ekspor

2026-02-05 13:44:39
KLH Akui Belum Tahu Asal Muasal Radioaktif yang Kontaminasi Cengkih Ekspor
JAKARTA, - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengaku belum mengetahui secara pasti asal muasal radioaktif Cesium-137 (Cs-137) yang mengontaminasi komoditas cengkih ekspor di Lampung. Wakil Menteri LH, Diaz Hendropriyono, mengatakan paparan Cs-137 bersumber dari tempat pemakaman umum di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.Dia menyebut, KLH bekerja sama dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna mendalami sumber utama kontaminasi dari pemakaman ataupun di perkebunan cengkih."Walaupun kadarnya (Cs-137) kecil, apakah kalau lama menumpuk bisa atau tidak saya perlu jawaban dari ahli juga. Kami lagi menelusuri itu, jadi jawabannya saya belum tahu persis itu dari mana asalnya," kata Diaz dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Selasa .Baca juga: KLH: Cengkih Ekspor Asal Lampung Terkontaminasi Radioaktif dari PemakamanKasus ini bermula saat Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat pada 28 September 2025 menemukan radiasi pada cengkih yang diproduksi PT Natural Java Spice (NJS), Surabaya. Laju radiasinya mencapai 732,43 becquerel (Bq) per kilogram."Sebenarnya ini seharusnya masih di bawah batas intervensi, batas amannya yang ditetapkan FDA itu sendiri, adalah 1.200 Bq per kilogram," tutur Diaz.Menelusuri temuan itu, Satgas Penanganan Cs-137 lantas memeriksa PT NJS pada 1 Oktober 2025. Namun, kata Diaz, tak ditemukan kontaminasi radioaktif di pabrik tersebut.Petugas pun memeriksa tiga perkebunan yang menyuplai cengkih ke pabrik, antara lain di Pati, Jawa tengah; Kabupaten Pesawaran, Lampung; serta Lampung Selatan. Tidak ada pula cesium 137 di lokasi tersebut."Paparan radiasinya di pemakaman umum ini mencapai 1,05-1,3 mikrosievert per jam, ini sudah di atas batas ambang batas yang ditetapkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten)," ucap dia.Bapeten menetapkan batas aman radioaktif 0,5 mikrosievert per jam. Setelah Satgas menyemen area pemakaman tersebut, tingkat radiasi turun menjadi 0,11-0,18 mikrosievert per jam.Baca juga: Akademisi IPB Soroti Lemahnya Pengawasan Mutu dalam Kasus Udang Terpapar CesiumSementara itu, Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup KLH, Rasio Ridho Sani, menjelaskan pihaknya kini tengah berfokus mengamankan lokasi radiasi. Area pemakaman disemen, untuk mencegah paparan Cs-137 kepada masyarakat.Lainnya, bakal memusnahkan 13,6 ton cengkih yang dikembalikan ke Indonesia. "Salah satu langkah yang kami lakukan tentu melakukan dekontaminasi, baik untuk pengangkatan, pemindahan, atau mitigasi dengan penyemenan. Mengingat lokasi tersebut jauh dari lokasi yang akan kami gunakan sebagai tempat penyimpanan sementara, maka langkah yang paling tepat kita lakukan adalah dengan menggunakan proses penyemenan," tutur Rasio.Rasio menyebutkan, kemungkinan paparan radioaktif berasal dari bahan baku yang telah tercemar. Selain itu, potensi kebocoran limbah nuklir di lokasi kejadian.Ia mencatat sumber Cesium di pemakaman berjarak sekitar 3-5 kilometer dari perkebunan cengkeh yang menyuplai ke PT NJS. Sementara, jarak pemukiman terdekat dari sumber radioaktif sekitar 50 meter.Baca juga: Dampak Perubahan Iklim: Sudah Telat Selamatkan Kopi, Cokelat, dan Anggur


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-02-05 12:58