JAYAPURA, - Suasana berkabung masih menyelimuti keluarga besar Sokoy-Kabey atas meninggalnya anak mereka, Irene Sokoy, Senin .Tampak dua tenda lengkap dengan kursi masih berada di halaman rumah keluarga Kabey di Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.Wanita berusia 31 tahun itu meninggal karena terlambat mendapatkan pelayanan medis dari empat rumah sakit di Kota dan Kabupaten Jayapura.Abraham Kabey, selaku mertua dari Irene Sokoy, ditemui di rumahnya, menceritakan bahwa pada Minggu siang sekitar pukul 14.30 WIT, sang anak merasakan kontraksi untuk melahirkan sehingga keluarga bergegas membawanya menggunakan speedboat menuju RSUD Yowari Sentani.Baca juga: Ditolak Sejumlah Rumah Sakit, Seorang Ibu dan Bayinya Meninggal di JayapuraSaat sampai di RSUD Yowari, Irene Sokoy mendapatkan penanganan dari sejumlah petugas rumah sakit."Saat sampai di rumah sakit, anak kami ditangani oleh sejumlah petugas. Namun, sekitar pukul 20.00 WIT, petugas memberi tahu kami bahwa tidak bisa melahirkan normal karena bayinya terlalu besar, sehingga disarankan untuk melakukan operasi," kata Abraham Kabey kepada wartawan saat ditemui pada Jumat siang."Kami sudah setuju untuk dilakukan tindakan operasi, tapi lagi-lagi pihak rumah sakit mengatakan bahwa tidak ada dokter kandungan, sehingga harus dirujuk ke rumah sakit lain untuk tindakan operasi. Ini yang sangat kami sesalkan, kenapa sejak awal tidak memberi tahu kami bahwa tidak ada dokter? Kenapa pasien ditahan hingga malam baru dirujuk?" tutur dia.Atas rujukan RSUD Yowari, pihak keluarga didampingi dua perawat membawa pasien Irene Sokoy ke Rumah Sakit Dian Harapan dengan maksud untuk mendapatkan layanan operasi.Namun, harapan keluarga sirna karena pasien ditolak tanpa pemberitahuan kepada keluarga."Setelah mendapat rujukan, kami langsung bawa pasien ke RS Dian Harapan, namun sampai sana tidak diterima, sehingga kami putuskan untuk bawa ke RSUD Abepura, tapi sampai di sana sama juga. Anak kami tidak diterima tanpa alasan jelas," kata dia. "Kami sempat ribut dengan petugas RSUD Abepura karena tidak melayani pasien, padahal kondisinya sudah kritis dan butuh penanganan cepat," ujar Abraham.Baca juga: Longsor Putus Akses, Ibu Hamil di Cianjur Ditandu 30 Menit Menuju AmbulansDari RSUD Abepura, keluarga berencana membawa pasien ke RSUD Jayapura, tetapi dalam perjalanan diputuskan ke RS Bhayangkara karena kondisi pasien yang semakin menurun./FINDI RAKMENI Mertua dari Irene Sokoy, Abraham Kabey bersama dua cucunya saat berdiri di makam Irene Sokoy pada Jumat Namun, di RS Bhayangkara, Irene ditolak dengan alasan kamar sudah penuh. Mereka diminta menempati ruang VIP. "Karena ruangan sudah penuh, kami disarankan ke ruang VIP. Tapi dari petugas meminta kami untuk membayar DP Rp 4 juta dulu. Kami tidak keberatan dengan jumlah itu, tapi kami meminta agar pasien ditangani dulu karena kondisi pasien sudah darurat. Nanti kami bayar setelah anak kami ditangani. Tapi mereka malas tahu," ujar dia. Hal yang sangat disesalkan pihak keluarga yakni tak ada petugas medis RS Bhayangkara yang datang melihat kondisi korban.
(prf/ega)
Ironi Layanan Kesehatan di Jayapura, Kader Posyandu dan Bayinya Meninggal Setelah Ditolak 4 Rumah Sakit
2026-01-12 00:31:08
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:58
| 2026-01-11 23:36
| 2026-01-11 23:00
| 2026-01-11 22:19
| 2026-01-11 21:58










































