JAKARTA, - Terik matahari siang menyelimuti sebuah gang permukiman padat di kawasan Matraman, Jakarta Timur.Di antara deretan pagar besi dan tembok rumah dengan cat yang mulai mengelupas, sepasang pengamen topeng monyet duduk lesehan di pinggir jalan sempit beraspal.Deni (43), pria bertubuh kurus dengan kulit kecokelatan akibat terpanggang matahari, mengenakan topi merah-putih yang telah lusuh.Baca juga: Fenomena Topeng Monyet di Jakarta, Antara Hiburan Murah dan Eksploitasi HewanIa bersandar pada pagar rumah sambil memegang drum yang terbuat dari tabung gas bekas berwarna hijau terang, dengan cat yang mengelupas di beberapa sisi./Lidia Pratama Febrian Cerita Deni, 25 Tahun Jadi Pengamen Topeng Monyet di JakartaDari tabung itu, Deni mengeluarkan dentuman ritmis yang menjadi pengiring atraksi kecil di depan matanya.Di sisi lain, Raffi (18), pemuda berkaus panjang warna kuning yang sudah memudar, memegang seutas tali kuning cerah. Wajahnya serius, matanya tak lepas mengawasi monyet kecil yang menjadi pusat tontonan.Hewan itu mengenakan pakaian biru lengkap dengan topi putih kecil dan berusaha mengikuti gerakan sesuai tarikan tali sang pawang muda.Monyet itu mendorong miniatur gerobak roda empat yang terbuat dari kayu dan plastik bekas, dicat hitam-putih dengan roda berwarna oranye mencolok.Sesekali, ia menaiki miniatur motor merah menyerupai motor gede (moge), berjalan pelan di atas aspal. Ekornya sesekali terangkat mengikuti gerakan tali yang terhubung ke pinggangnya.Suasana di gang sederhana itu semakin hidup ketika anak-anak berdatangan. Seorang bocah berambut ikal menatap tanpa berkedip, duduk di atas motor milik orangtuanya yang terparkir tak jauh dari lokasi atraksi.Ia memperhatikan monyet yang berusaha menjaga keseimbangan di atas mainan motor roda tiga, sementara sang paman terus menabuh tabung gas yang kini beralih fungsi menjadi alat musik jalanan.Raffi sesekali memberi aba-aba melalui tarikan tali untuk mengatur gerak monyet, sementara Deni terus memainkan irama demi menarik perhatian warga.Senyum jarang terpancar dari wajah Deni. Namun, dengan sabar ia menjelaskan bahwa pekerjaan ini telah dijalaninya selama lebih dari 25 tahun, sejak remaja di kampung halamannya di Cirebon, Jawa Barat.Baca juga: Cerita Deni, 25 Tahun Jadi Pengamen Topeng Monyet di Jakarta“Saya yang bunyiin musik,” ujar Deni sembari mengusap keringat di dahinya saat ditemui Kompas.com, Jumat .“Kalau yang megang tali ini ponakan saya, Raffi,” tambahnya sambil melirik ke arah pemuda yang duduk jongkok menjaga penampilan si monyet.Atraksi terus berlangsung di antara suara anak-anak yang penasaran, deru motor yang lewat, dan ritme dentuman tabung gas yang memecah hening siang.Di sinilah, tradisi hiburan rakyat bernama topeng monyet masih bertahan di tengah kota yang semakin sibuk dan modern.Deni menuturkan, penghasilan hariannya tak seberapa, rata-rata sekitar Rp 50.000. Dengan jumlah teman keliling sebanyak enam orang, mereka mengatur rute agar dapat menjangkau beberapa titik di Jakarta setiap hari.“Tadi dari Jatinegara. Di sini sekitar Utan Kayu. Kita keliling Jakarta,” ujarnya.Monyet yang mereka gunakan bukan milik sendiri, melainkan disewa dari kampung dengan biaya Rp 700.000 per bulan. Biasanya, monyet diganti setiap lima tahun sekali jika sudah terlalu besar dan tidak lagi mampu mengikuti atraksi./Lidia Pratama Febrian Topeng Monyet Tetap Eksis di Jakarta karena Identitas Sosial yang Turun-TemurunDeni menceritakan, monyetnya telah empat kali disita oleh Satpol PP karena atraksi topeng monyet kini dilarang.“Terakhir saya yang menyerahkan sendiri,” katanya.Baca juga: Menara Saidah, Bayangan Kemegahan yang Terbengkalai di Tengah Megaproyek JakartaMeski demikian, Deni mengaku tidak pernah berniat mencari pekerjaan lain. Tawaran menjadi PPSU sempat datang, tetapi persyaratan administrasinya membuatnya batal.Kontrakan yang mereka tempati di Kota Paris, Tanah Tinggi, seharga Rp 350.000 per bulan harus ditanggung bersama.
(prf/ega)
Bertahan di Tengah Larangan, Pengamen Topeng Monyet Masih Menyambung Hidup di Jakarta
2026-01-12 03:45:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:24
| 2026-01-12 03:49
| 2026-01-12 03:16
| 2026-01-12 02:30
| 2026-01-12 01:57










































