Rp 15.000 Bisa ke 23 Pantai, Wisatawan Pilih Liburan ke Gunungkidul

2026-02-03 16:41:50
Rp 15.000 Bisa ke 23 Pantai, Wisatawan Pilih Liburan ke Gunungkidul
YOGYAKARTA, - Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat sudah lebih dari 90.000 wisatawan berkunjung ke destinasi wisata selama 4 hari. Sekretaris Dinas Pariwisata Eko Nur Cahyo menyampaikan, peningkatan kunjungan terasa sejak Rabu yakni 11.970 kunjungan, Kamis tercatat 28.911 pengunjung, Jumat tercatat 24.366 pengunjung; dan Sabtu tercatat 28.044 pengunjung. "Total sudah ada 93.291 orang sampai kemarin, untuk hari ini proses rekap," kata Eko saat dihubungi melalui telepon Minggu . Dia mengatakan, kunjungan terbanyak di kawasan Pantai. Apalagi sejumlah pantai terdapat destinasi wisata yang dibangun oleh pengusaha. Baca juga: Libur Akhir Tahun, Puluhan Ribu Wisatawan Kunjungi Pantai di GunungkidulSelain itu, efek tiket Rp15.000 per orang, bisa masuk ke 23 pantai menarik wisatawan. Hal ini memungkinkan wisatawan berpindah-pindah lokasi dari satu pantai ke pantai lain tanpa harus membayar retribusi lagi di jalur yang sama. "Kunjungan diprediksi mencapai puncaknya pada 31 Desember mendatang, atau menjelang pergantian tahun 2026," kata dia. Saat malam pergantian tahun juga ada atraksi wisata di kawasan Pantai Sepanjang. Ia megimbau wisatawan agar tetap waspada dan memperhatikan rambu-rambu keselamatan saat bermain di bibir pantai.Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul Oneng Windu Wardana menargetkan 231.426 pengunjung dari 24 Desember 2025-31 Desember 2025. Baca juga: Wisata Baru Pantai Drini Gunungkidul, Jalannya Mirip Pantai Pandawa BaliDia menyebut mengakui pascaanak sekolah sudah libur, terjadi peningkatan kunjungan secara signifikan di seluruh destinasi wisata di Bumi Handayani. Sebagian besar wisatawan masih menyerbu kawasan pantai."Hari Sabtu   di atas 13.000, dan Minggu bisa lebih dari 20.000, biasanya akhir pekan hari Sabtu sekitar 9000 an, kalau hari Minggu paling 12 ribuan," kata Windu.Disinggung tren perubahan wisatawan alihkan kunjungan ke wilayah Bali ke DIY, Windu menyebut perlu penelitian lebih lanjut. Namun demikian, tren kunjungan wisata lokal meningkat tajam."Paling banyak wisatawan dari lokal, orang mudik main ke Pantai. Saya melihat orang lokal seperti Solo raya, Magelang," kata dia. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 14:59