Konflik Memanas, Militer China Simulasikan Blokade Laut terhadap Taiwan

2026-02-02 20:06:52
Konflik Memanas, Militer China Simulasikan Blokade Laut terhadap Taiwan
China mengumumkan latihan militer "besar" di sekitar Taiwan pada Senin (29/12). Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Jepang soal komitmen Tokyo membela Taipei. Pulau yang cuma berjarak 160 km dari daratan China itu berstatus merdeka, tapi diklaim Beijing sebagai wilayahnya.Latihan militer juga dilakukan di tengah kemarahan China atas penjualan senjata Amerika Serikat (AS) ke Taiwan. Penjualan itu diumumkan sebagai paket terbesar dalam sejarah kedua negara, dan menggariskan perubahan strategi pertahanan Taipei, yang berpotensi merumitkan medan invasi bagi Beijing.Meskipun militer China sebelumnya pernah mengadakan latihan tembak nyata dan simulasi blokade pelabuhan di sekitar Taiwan, ini adalah pertama kalinya mereka secara terbuka mengatakan bahwa latihan tersebut bertujuan untuk mencegah intervensi militer dari pihak luar.Militer China menjelaskan bahwa latihan di lima zona besar sekitar Taiwan akan mencakup:Awalnya, militer China mengatakan latihan yang dinamai "Just Mission 2025" ini akan dimulai Selasa (30/12) dengan latihan tembak nyata. Namun, pada Senin (29/12) China menyatakan sudah melakukan latihan tembak nyata terhadap target maritim di utara dan barat daya Taiwan."Ini merupakan peringatan serius bagi pasukan separatis 'Kemerdekaan Taiwan' dan pasukan campur tangan eksternal, dan merupakan tindakan yang sah dan perlu untuk menjaga kedaulatan dan kesatuan nasional China," kata Shi Yi, juru bicara Komando Teater Timur China."Latihan ini fokus pada pelatihan patroli kesiapan tempur maritim dan udara, mendapatkan kontrol terpadu, menutup pelabuhan dan area penting, dan melakukan pencegahan multidimensi," tambahnya.Presiden Taiwan, William Lai Ching-te, mendesak China "untuk tidak salah menilai situasi dan menjadi pengganggu di kawasan.""Menanggapi pengabaian otoritas China terhadap norma internasional dan penggunaan intimidasi militer untuk mengancam negara tetangga, Taiwan menyatakan kecaman kerasnya," kata juru bicara presiden, Karen Kuo, dalam sebuah pernyataan.Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan pada Senin (29/12) pagi bahwa mereka telah mendeteksi dua pesawat China dan 11 kapal China beroperasi di sekitar pulau dalam 24 jam terakhir. Kementerian tersebut mengatakan telah membentuk pusat respons cepat dan berjanji untuk "melindungi demokrasi, kebebasan, kedaulatan, dan keselamatan" di pulau itu."Sebuah pusat respons telah dibentuk, dan pasukan yang sesuai telah dikerahkan," kata militer Taiwan, menambahkan bahwa angkatan bersenjatanya "telah melakukan latihan respons cepat."Taiwan yang demokratis telah memerintah dirinya sendiri selama beberapa dekade, tetapi China menganggapnya sebagai provinsi separatis dan lama telah berjanji akan merebutnya dengan kekuatan jika diperlukan.Pengumuman latihan militer ini muncul setelah Beijing menyatakan kemarahan atas komentar Perdana Menteri nasionalis baru Jepang, Sanae Takaichi, yang menyarankan bahwa tindakan China terhadap Taiwan bisa menjadi "situasi yang mengancam kelangsungan hidup", sebuah penetapan di bawah hukum Jepang yang membuka pintu bagi intervensi militer.Ini juga terjadi setelah Amerika Serikat mengumumkan penjualan senjata terbesar sepanjang masa ke Taiwan, dengan paket senilai $ 11,1 miliar (sekitar Rp 185 triliun).Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa InggrisDiadaptasi oleh Rahka SusantoEditor: Rizki NugrahaSimak juga Video: China Tebar Ancaman ke Jepang Buntut Pasang Rudal Dekat Taiwan[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Dampak kecelakaan tersebut dinilai sangat fatal. Sebanyak 16 penumpang dinyatakan meninggal dunia. Rinciannya, 15 korban tewas di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya meninggal dunia saat menjalani perawatan medis di RSUD dr. Adhyatma MPH (Tugurejo), Kota Semarang.Selain korban meninggal, sebanyak 17 penumpang lainnya mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, sembilan korban harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Adhyatma MPH (Tugurejo), Kota Semarang.Fakta lain yang terungkap dalam penyelidikan awal adalah latar belakang pengemudi bus. Sopir PO Cahaya Trans tersebut diketahui masih tergolong baru mengemudikan rute Bogor–Yogyakarta.Pengemudi baru dua kali melakukan perjalanan pulang-pergi pada rute tersebut dan kini telah diamankan pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dalam peristiwa kecelakaan maut di Tol Kota Semarang ini, pengemudi dilaporkan hanya mengalami luka ringan.Baca juga: Kecelakaan Bus di Tol Krapyak Semarang, Polisi Dalami Dugaan Sopir Minim Jam TerbangDok. SAR Semarang Kecelakaan maut terjadi di ruas simpang susun Exit Tol Krapyak Kota Semarang, Jawa Tengah terjadi pada Senin pukul 00.30 WIB dini hari. Salah satu korban selamat adalah kernet bus, Robi Sugianto (51), warga Bumiayu, Kabupaten Brebes.Robi mengalami patah tulang pada kaki kanan serta luka di bagian kepala. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, kernet berada di bagian depan bus dan menyadari kendaraan tiba-tiba miring ke kanan sebelum akhirnya terguling dan menghantam pembatas jalan tol.Polda Jawa Tengah memastikan seluruh korban kecelakaan bus PO Cahaya Trans mendapatkan penanganan medis secara maksimal dan profesional.Hingga saat ini, penyebab pasti kecelakaan tunggal di Simpang Susun Krapyak tersebut masih dalam proses penyelidikan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemeriksaan kondisi kendaraan, kontur dan kondisi jalan, hingga faktor pengemudi.Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Penampakan Bus Maut Kecelakaan di Tol Krapyak Semarang Akibatkan 16 Orang Meninggal

| 2026-02-02 19:05