JAKARTA, – Sudah sejak lama, Pemerintah Jepang menyadari bahwa negaranya berada di wilayah cincin api Pasifik, sehingga membuat negara ini kerap diguncang gempa bumi bermagnitudo tinggi bahkan masuk skala megathrust.Sebut saja, gempa Kanto pada 1923 silam yang bermagnitudo 7,9; gempa Hanshin atau juga dikenal sebagai gempa Kobe pada 1995 lalu bermagnitudo 6,9; hingga gempa Tohoku pada 2011 bermagnitudo 9,1. Bahkan, gempa Tohoku juga memicu munculnya gelombang tsunami.Serentetan gempa besar itulah yang kemudian membuat pemerintah Jepang bersama warganya melahirkan budaya Bosai atau siaga bencana dalam menghadapi setiap ancaman yang timbul akibat bencana.Budaya bosai atau siaga bencana, menjadi pilihan yang diambil pemerintah Jepang bersama warganya untuk menghadapi setiap ancaman yang timbul akibat bencana.Baca juga: Bea Cukai Buka Opsi Sumbangkan Baju Thrifting Ilegal ke Korban Bencana“Bosai itu sudah jadi budaya. Mulai dari pencegahan sebelum bencana, saat bencana, hingga pascabencana, semuanya ditata dan melibatkan banyak institusi,” ujar Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Harkunti, kepada Kompas.com, Selasa .Di Jepang, budaya Bosai bukan hanya sekadar persiapan sesaat, tetapi sebuah filosofi yang menekankan pada kesiapan individu dan kelompok dalam menghadapi segala kemungkinan bencana.Filosofi ini tidak hanya membangun pengetahuan, tapi juga membentuk kebiasaan dan refleks keselamatan di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.Budaya Bosai pun diwujudkan dalam berbagai hal mulai dari peningkatan kesadaran, pelatihan rutin dan persiapan logistik seperti emergency kit atau ransel darurat, hingga tindakan cepat dan terukur ketika bencana terjadi.Baca juga: Izin Donasi Kala Bencana, Antara Kebutuhan Korban dan AdministrasiJepang menyadari bahwa bukan hanya gempa bumi dan tsunami yang menjadi ancaman mereka, tapi ada pula angin topan dan gunung berapi yang juga mengintai keselamatan mereka.Belajar dari sana, Jepang sadar bahwa mereka harus mendorong inovasi seperti peringatan dini J-Alert dan memberikan pendidikan kebencanaan massal sejak usia dini.Implementasi budaya bosai pun diwujudkan melalui pendidikan anak tentang cara berlindung saat gempa, latihan evakuasi rutin di sekolah dan lingkungan, kebiasaan menyiapkan tas siaga bencana yang berisi P3K, makanan, dokumen penting, senter, radio hingga perlengkapan darurat.Selain itu juga mengimplementasikan infrastruktur tahan guncangan, hingga pemakaian material sederhana seperti tempat tidur kardus sebagai solusi darurat di pengungsian.Semua elemen ini memastikan masyarakat mampu bertindak cepat dan tepat saat bahaya datang.ANTARA FOTO/Bayu Pratama S Bocah melihat sekeliling rumahnya yang luluh lantak pascabanjir bandang di Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Selasa . Desa tersebut menjadi salah satu wilayah di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara yang terdampak bencana banjir bandang dengan kerusakan pemukiman mencapai 95 persen. Harkunti menilai, budaya bosai di Jepang sudah mengakar kuat di masyarakat. Sistem peringatan dini pun sangat responsif, sehingga membuat warga dapat langsung mengevakuasi diri ketika sebuah peringatan bencana dikeluarkan.Tak hanya itu, sector swasta pun turut berperan aktif. Minimarket dan konbini secara otomatis membuka akses pangan bagi warga terdampak sesuai perjanjian dengan pemerintah, tanpa birokrasi yang berbelit.
(prf/ega)
Belajar Budaya “Bosai” dari Jepang, Cara Bersiaga Menghadapi Bencana
2026-01-12 06:17:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:09
| 2026-01-12 06:33
| 2026-01-12 05:24
| 2026-01-12 05:23
| 2026-01-12 04:43










































