Lebih dari 50.000 Pekerja AS Kena PHK Akibat AI pada 2025

2026-02-03 13:02:16
Lebih dari 50.000 Pekerja AS Kena PHK Akibat AI pada 2025
- Artificial intelligence (AI) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat sepanjang 2025.Dikutip dari CNBC, Senin , konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas mencatat, hampir 55.000 PHK pada tahun ini secara langsung dikaitkan dengan penerapan AI.Secara keseluruhan, jumlah PHK yang diumumkan sepanjang 2025 mencapai 1,17 juta pekerjaan. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19 pada 2020, ketika total PHK mencapai 2,2 juta hingga akhir tahun.Baca juga: Berapa Lama Proses Pencairan JHT bagi Pekerja Resign atau PHK? Ini Kata BPJS KetenagakerjaanChallenger mencatat, pada Oktober 2025 perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan sekitar 153.000 PHK. Sementara itu, lebih dari 71.000 PHK terjadi pada November, dengan lebih dari 6.000 di antaranya secara spesifik dikaitkan dengan AI.Di tengah tekanan inflasi, meningkatnya biaya akibat tarif, serta upaya perusahaan memangkas pengeluaran, AI dipandang sebagai solusi jangka pendek yang menarik untuk efisiensi biaya.Studi Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang dirilis pada November menunjukkan bahwa AI sudah mampu menggantikan pekerjaan sebesar 11,7 persen dari pasar tenaga kerja AS.Teknologi ini juga disebut berpotensi menghemat hingga 1,2 triliun dollar AS dalam biaya upah, terutama di sektor keuangan, layanan kesehatan, dan jasa profesional lainnya.Baca juga: Bakal Pangkas Jumlah BUMN hingga Anak-Cucu, Danantara: Tidak Boleh Ada PHK! Meski demikian, tidak semua pihak sepakat bahwa AI menjadi penyebab utama PHK. Fabian Stephany, asisten profesor AI dan dunia kerja di Oxford Internet Institute, sebelumnya mengatakan bahwa AI bisa saja dijadikan alasan PHK.Stephany menilai banyak perusahaan yang berkinerja baik selama pandemi telah “merekrut terlalu banyak karyawan.” PHK yang terjadi saat ini, menurut dia, lebih menyerupai proses “pembersihan pasar”.“Ini sampai batas tertentu adalah memecat orang-orang yang sejak awal tidak memiliki prospek jangka panjang yang berkelanjutan. Alih-alih mengakui kesalahan perhitungan dua atau tiga tahun lalu, perusahaan kemudian menjadikan AI sebagai kambing hitam,” ujar Stephany.Baca juga: Adopsi AI, HP Bakal PHK hingga 6.000 KaryawanBerikut sejumlah perusahaan besar secara terbuka menyebut AI sebagai bagian dari strategi PHK dan restrukturisasi mereka sepanjang 2025.Amazon mengumumkan gelombang PHK terbesar dalam sejarah perusahaan pada Oktober 2025 dengan memangkas 14.000 posisi karyawan korporat. Langkah ini diambil seiring fokus perusahaan pada “taruhan terbesar” mereka, termasuk AI.“Generasi AI ini adalah teknologi paling transformatif yang kami lihat sejak internet. AI memungkinkan perusahaan berinovasi jauh lebih cepat dari sebelumnya,” tulis Senior Vice President of People Experience and Technology Amazon, Beth Galetti, dalam sebuah unggahan blog.Ia menambahkan, Amazon perlu beroperasi secara lebih ramping dengan lapisan organisasi yang lebih sedikit agar dapat bergerak lebih cepat untuk pelanggan dan bisnis.CEO Amazon Andy Jassy sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa AI akan menyusutkan jumlah tenaga kerja perusahaan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-03 11:32