Kerja Keras Yulmi Nursastika, Guru SLB di Lombok, Hadapi Anak-anak Istimewa

2026-01-12 13:18:57
Kerja Keras Yulmi Nursastika, Guru SLB di Lombok, Hadapi Anak-anak Istimewa
MATARAM, - Tiba-tiba Kurnia Yulmi Nursastika (34), Guru SLBN 1 Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) berusaha menahan siswanya yang terus meludahi teman-temannya di kelas.Berbagai upaya dilakukan hingga akhirnya Guru SLB ini berhasil menghentikan tindakan ekstrim siswanya di dalam ruang kelas 4x3 meter itu."Itu tindakannya ketika dia merasa bahagia, jadi dia, siswa saya yang masih sekolah dasar itu adalah penyandang tuna grahita tingkat parah, memiliki kemampuan berpikir di bawah rata rata," kata Yulmi, Selasa .Baca juga: Cerita Lucu Damkar Blitar, Pernah Diminta Tolong Temani Siswi SMA Menghadap Guru BKCerita itu tak bisa dilupakannya, karena saat itu, tahun 2012 adalah hari pertamanya mengabdi menjadi guru SLB di Lombok Timur.Dia mengatakan itu pengalaman pertama mengajar anak anak istimewa, dan dirinya berupaya menghentikan kebiasaan buruk siswanya mulai dari menempelkan garam di bibirnya saat meludahi temen temennya, tapi gagal.Menempelkan makanan pahit juga gagal, hingga akhirnya siswanya berhati meludahi kawan kawannya, setelah Yulmi menempelkan daun cemara yang keras dan sedikit berbulu di mulut siswanya."Rupanya dia tidak suka bunga cemara, sejak itu dia kapok meludahi kawan kawannya. Jadi dia kalau bahagia akan tepuk tangan dan selesai tepuk tangan langsung meludahi kawan kawannya," kata Yulmi mengenang cerita itu.Baca juga: Cerita Ririn, Guru SLBN Sumbawa Raih Penghargaan Nasional Lewat Inovasi Media PembelajaranYulmi Nursastika, adalah satu dari puluhan bahkan ratusan guru bagi siswa berkebutuhan khusus yang menghadapi banyak tantangan selama mengajar.Kata Yulmi, kalau tidak punya kesabaran super, menjadi guru SLB bisa merasa tertekan.Tetapi karena menjadi guru SLB adalah pilihannya, jadi sejak 2012 dia menikmati pekerjaan itu hingga kini, meskipun selama 10 tahun menjadi tenaga honor dengan gaji tak seberapa."Bukan soal dapat bulanan berapa jika menjadi guru itu, tetapi perjuangannya membuat anak anak yang dipandang sebelah mata, bisa berhasil dan mandiri, itu yang buat saya bahagia menjalani profesi ini, " katanya.Bagi guru kelahiran 24 Juli 1991 ini mengabdi dan memberi yang terbaik bagi murid muridnya adalah tanggung jawab yang harus diberikannya.Karena semua itu akan berguna bagi anak anak didiknya agar diterima di tengah tengah masyarakat.Menjadi Guru bukanlah pilihan pertamanya ketika lulus SMA di Lombok Timur, tempat kelahirannya, Yulmi bercita cita masuk fakultas kedokteran atau fakultas apa saja yang bidang ilmunya kesehatan.Namun keterbatasan biaya, karena orang tuanya hanya penjaga sekolah, akhirnya ayahnya memintanya berpikir realistis.


(prf/ega)