JAKARTA, - Pasar keuangan Indonesia diperkirakan bergerak volatil pada pekan ini menjelang keputusan penting bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed). Di tengah dinamika tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor all time high (ALH) pada penutupan perdagangan Senin . IHSG menguat 77,93 poin atau 0,90 persen ke level 8.710,695 setelah bergerak stabil di zona hijau sepanjang sesi. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari RTI, IHSG dibuka di posisi 8.676,727 dan terus menguat hingga menyentuh level tertinggi pada 8.720,091. Adapun posisi terendah berada di 8.642,062. Aktivitas perdagangan juga meningkat dengan volume mencapai 56,955 miliar saham dan nilai transaksi Rp 27,03 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 2.901.965 kali, dengan 385 saham menguat, 265 melemah, dan 153 stagnan. Kapitalisasi pasar BEI naik menjadi Rp 16.034,693 triliun. Di sisi lain, rupiah justru melemah pada awal pekan. Kurs spot turun Rp 47 atau 0,28 persen ke posisi Rp 16.695 per dolar AS.Baca juga: Dollar AS Melemah, Harga Emas Dunia Naik Jelang Rapat The FedPengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai investor menaruh ekspektasi kuat bahwa The Fed akan memangkas suku bunga. Menurutnya, situasi tersebut membuka peluang IHSG untuk kembali menguat selama tidak ada tekanan tambahan dari sentimen global. “Investor saat ini memberikan kepercayaan probabilitas cukup besar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga. Minggu ini IHSG memiliki peluang untuk menguat selama tidak ada gangguan dari sentimen makro dari global,” ujar Reydi kepada Kompas.com, Senin sore ini. Ia menekankan pergerakan rupiah setelah keputusan The Fed akan menentukan arah aliran modal asing. Jika rupiah melemah, investor cenderung menarik dana mereka keluar dari pasar Indonesia karena risiko dianggap meningkat. Sebaliknya, jika rupiah tetap stabil, kondisi tersebut dapat menarik minat investor untuk menambah investasi, sehingga arus modal asing masuk berpotensi meningkat lebih besar. “Jika rupiah melemah setelah keputusan The Fed, hal itu dapat memicu capital outflow, namun apabila rupiah stabil, maka akan picu inflow yang semakin masif,” paparnya. Baca juga: Rupiah Tergelincir ke Rp 16.676, Terlemah di Asia Pagi Ini Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong, meskipun indeks dollar AS sedang berfluktuasi dan cenderung melemah, rupiah tetap sulit menguat dan bergerak terbatas di kisaran Rp 16.600-16.700 per dollar AS. Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia serta kondisi ekonomi domestik yang dinilai masih lemah. Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk mencegah pelemahan rupiah menembus level Rp 16.700-17.000. The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga, tetapi kemungkinan memberi sinyal hawkish dalam pertemuan FOMC, sehingga pelaku pasar memilih bersikap menunggu hingga ada kepastian arah kebijakan. Rupiah diprediksi bergerak konsolidatif hingga keputusan FOMC diumumkan, namun setelah itu rupiah masih berpotensi tertekan, bergantung pada hasil pertemuan The Fed. Pergerakan rupiah untuk sementara diperkirakan tetap berada di rentang Rp 16.600 - Rp 16.700. “Namun tentunya investor wait and see untuk sinyal yang jelas. Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi hingga FOMC namun berpotensi tertekan paska itu, namun tentunya akan tergantung pada hasil pertemuan tsb. Range 16600-16700,” ucap Lukman kepada Kompas.com. Baca juga: Harga Emas Dunia Sentuh Level Tertinggi Dalam 6 Pekan, Imbas Ekspektasi Suku Bunga The Fed
(prf/ega)
Pasar Keuangan RI "Berdebar" Menunggu The Fed, Apa Dampaknya Jika IHSG Menguat dan Rupiah Stagnan?
2026-01-12 11:18:10
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 12:02
| 2026-01-12 10:24
| 2026-01-12 10:23
| 2026-01-12 09:46










































