Ibu dan Dana Darurat: “Bantal” Keuangan yang Sering Terlupa

2026-02-04 04:02:24
Ibu dan Dana Darurat: “Bantal” Keuangan yang Sering Terlupa
JAKARTA, - Pagi itu, belanja bulanan sudah dicatat rapi. Uang sekolah anak, iuran RT, token listrik, sampai ongkos suami masuk ke amplop berbeda.Bagi banyak ibu rumah tangga, rutinitas mengatur uang seperti ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan cara menjaga rumah tetap “hidup” dari tanggal muda sampai tanggal tua.Namun, rencana seketat apa pun bisa runtuh dalam hitungan jam ketika kejadian tak terduga datang: anak demam tinggi dan harus dibawa ke IGD, motor satu-satunya mogok, atau anggota keluarga perlu pulang mendadak ke kampung karena kabar duka.Baca juga: Kartu Kredit Jadi Backup Dana Darurat, Apakah Bisa?Dok. Kredivo Ilustrasi dana darurat.Dalam momen-momen seperti itu, dana darurat berfungsi seperti bantal pengaman.Dana darurat tidak membuat risiko hilang, tetapi mencegah keluarga jatuh terlalu keras, terutama mencegah keputusan finansial yang biasanya paling mahal: berutang cepat tanpa perhitungan, menunda kebutuhan medis, atau mengorbankan pos penting seperti pendidikan dan makanan.Ketika tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi meningkat, kesiapan dana darurat menjadi pembeda antara keluarga yang “terguncang tapi pulih” dan keluarga yang masuk pusaran utang.Bank Indonesia (BI) melalui Survei Konsumen menggambarkan perubahan perilaku rumah tangga.Baca juga: Khawatir Badai PHK? Ini Pentingnya Dana Darurat dan Cara MenabungnyaPada Oktober 2025 rata-rata porsi pendapatan untuk konsumsi tercatat 74,7 persen, turun dari 75,1 persen pada bulan sebelumnya, sementara porsi tabungan meningkat pada kelompok tertentu.Dikutip dari Kontan, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai kondisi ini sebagai kehati-hatian konsumen yang “sehat”, bukan semata sinyal pelemahan struktural daya beli.Di tingkat rumah tangga, kehati-hatian itu bisa diterjemahkan menjadi dua hal, yakni menahan pengeluaran non-esensial dan mulai membangun bantalan keuangan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, mengatakan sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, lembaga itu telah menerima 343.402 laporan penipuan. Laporan tersebut menunjuk 563.558 rekening yang terkait aktivitas penipuan, di mana 106.222 rekening telah diblokir.Dari keseluruhan laporan, total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp 7,8 triliun, sementara upaya pemblokiran dana berhasil menahan Rp 386,5 miliar.“Sejak awal beroperasi di tanggal 22 November 2024 sampai dengan 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC sebanyak 563.558 rekening dengan 106.222 rekening telah dilakukan pemblokiran,” ujar Hudiyanto lewat keterangan pers, Sabtu .Baca juga: Penipuan AI Deepfake Kian Marak, Keamanan Identitas Digital Diuji“Adapun total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban penipuan sebesar Rp 7,8 triliun dengan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar,” paparnya. Menurut Hudiyanto, angka-angka itu memperlihatkan sejauh mana pelaku memanfaatkan platform digital untuk menjerat korban, mulai dari pinjaman online alias pinjol ilegal hingga tawaran investasi palsu, sehinggga penindakan masif diperlukan untuk melindungi konsumen.Sebagai bagian dari penindakan, Satgas PASTI kembali memblokir 776 aktivitas dan entitas keuangan ilegal, yang terdiri atas 611 entitas pinjaman online ilegal, 96 penawaran pinjaman pribadi (pinpri), dan 69 tawaran investasi ilegal.

| 2026-02-04 02:00