Persebaya Inkonsisten, Tuntutan "Perez Out" Terus Menggema

2026-01-15 03:57:04
Persebaya Inkonsisten, Tuntutan
- Pelatih Persebaya Surabaya, Eduardo Perez Moran, menghadapi situasi pelik menyusul performa tim yang dinilai inkonsisten hingga pekan ke-12 Super League 2025-2026.Desakan agar Eduardo Perez Moran mundur dari kursi kepelatihan Persebaya Surabaya pun semakin kencang terdengar.Puncak kekecewaan suporter terlihat jelas setelah Persebaya Surabaya ditahan imbang Persik Kediri.Baca juga: Eduardo Perez Kritik Sensitivitas VAR di Laga Persik Vs PersebayaTeriakan "Edu Out" menggema di tribune Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik,  pada pertengahan babak pertama dan seusai pertandingan laga Derbi Jawa Timur.Menanggapi tekanan tersebut, ia memberikan tanggapan yang tenang namun tegas.Menurutnya, kritik dan tekanan adalah bagian tidak terpisahkan dari dunia sepak bola profesional."Ketika bekerja di dunia sepak bola, Anda harus siap untuk segalanya. Jadi, saya menghormati semua pendapat," ujar pelatih asal Spanyol tersebut.Desakan "Edu Out" dari Bonek cukup beralasan jika menilik perjalanan Persebaya musim ini.Tim Bajul Ijo masih tercecer di papan tengah, tepatnya di posisi ke-8 klasemen sementara Super League 2025-2026.Posisi ini jelas di luar ekspektasi tim yang selalu menargetkan papan atas.Baca juga: Hasil Persik Vs Persebaya 1-1, Sama Kuat di Derbi JatimRapornya terbilang mengecewakan karena baru mampu meraih 15 poin dari empat kemenangan, tiga imbang dan tiga kekalahan.Sehingga lini serang yang diharapkan tajam pun tampil inkonsisten. Sebab tim baru mencetak 12 gol, atau rata-rata hanya satu gol per pertandingan.Eduardo Perez tidak menutup mata dengan kondisi ini.Namun terpenting baginya saat ini adalah mencari solusi untuk segera mendapatkan performa yang diharapkan. Ia menegaskan skuad dan staf kepelatihan yang bekerja keras setiap hari."Saya sangat kuat sekarang. Saya berada di satu momen di mana saya lebih kuat dari sebelumnya. Saya percaya pada semua pemain, di klub. Kami bekerja sangat keras setiap hari," ujar pelatih berlisensi UEFA Pro itu.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Pemain Persik Kediri Supriadi dihalau pemain Persebaya Surabaya Dejan Tumbas saat laga pekan ke-12 Super League 2025-2026 yang berlangsung di Stadion Gelora Joko Samudro Gresik, Jumat malam.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-15 03:44