BP BUMN: Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang Rampung Besok

2026-01-12 07:00:15
BP BUMN: Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang Rampung Besok
JAKARTA, - Wakil Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) Aminuddin Ma'ruf mengatakan pembangunan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang akan rampung besok, Rabu . Pembangunan huntara dikerjakan oleh BUMN sebagai bagian dari upaya pemulihan pasca bencana banjir dan longsor yang terjadi akhir November 2025 lalu. Aminuddin menuturkan, total ada 15.000 huntara yang dibangun BUMN Karya secara bertahap di daerah terdampak bencana, yakni Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh. Baca juga: Hutama Karya Kebut Pembangunan 196 Huntara di Aceh TamiangDok. PT Hutama Karya (Persero) Sebanyak tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya akan membangun 600 hunian sementara (huntara) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh."Kami targetkan ada 15.000 huntara, yang akan kita bangun dalam 3 bulan ke depan," ujarnya dalam rapat koordinasi dengan Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana Dewan Perwakilan Rakyat, yang ditayangkan dalam YouTube DPR RI, Selasa . Secara khusus, kata Aminuddin, pembangunan huntara di Aceh Tamiang bakal rampung besok. Pembangunannya melibatkan oleh tujuh BUMN Karya yang dipimpin oleh PT Hutama Karya (Persero). Sementara itu, sistem kelistrikan dari huntara akan dikerjakan oleh PT PLN (Persero), serta jaringan komunikasi akan dikerjakan oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui anak usahanya, PT Telkomsel. "Itu di Aceh Tamiang, insyaallah besok itu akan selesai, yang di-support oleh tujuh BUMN Karya, yang dilead oleh Hutama Karya," jelas Aminuddin.Baca juga: Pascabanjir Sumatera, Brantas Abipraya Targetkan 500 Hunian Sementara Rampung Tahun Ini "Dan di-support sistem kelistrikannya oleh teman-teman PLN, alhamdulillah sudah siap. Dan jaringan Telkom oleh Telkomsel," imbuhnya. WEGE Teknologi Modular digunakan WIKA-WEGE untuk membangun 600 hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang.Ia pun memastikan, jaringan telekomunikasi dari Telkomsel dan pasokan listrik dari PLN akan disediakan secara gratis selama huntara tersebut ditempati masyarakat terdampak. "Selama ada huntara di situ, baik jaringan listrik maupun jaringan Telkom digratiskan oleh teman-teman PLN dan oleh Telkomsel," kata Aminuddin. Sebelumnya, Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah mengatakan, bahwa perusahaan terus mempercepat pembangunan huntara di Aceh Tamiang. Ada 196 unit huntara yang sedang dibangun di wilayah tersebut.Baca juga: BPI Danantara dan BP BUMN Siapkan 15.000 Hunian Sementara bagi Korban Banjir di Sumatera Percepatan dilakukan melalui pola kerja 24 jam dengan sistem shifting dan pengawasan mutu yang diperketat agar hunian segera layak ditempati warga terdampak. "Kami memastikan koordinasi lapangan berjalan lancar agar hunian berkualitas, segera siap digunakan warga,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa . Pekerjaan huntara di Aceh Tamiang dikerjakan melalui kolaborasi tujuh BUMN Karya. Hutama Karya pun mengerahkan sumber daya secara optimal agar 196 hunian bisa difungsionalkan mulai Kamis . Fokus pekerjaan meliputi fondasi, rangka atap, rangka dinding, lantai panggung, serta pemasangan pintu dan jendela.Baca juga: APLSI Salurkan Listrik Tenaga Surya dan Internet untuk Korban Bencana di Sumatera


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 06:59