Digitalisasi Koperasi: Bertransformasi atau Terdisrupsi

2026-01-12 16:19:38
Digitalisasi Koperasi: Bertransformasi atau Terdisrupsi
KOPERASI adalah motor penggerak ekonomi rakyat. Data statistik yang dirilis BPS mendukung premis itu. Tak main-main, jumlah koperasi aktif di Tanah Air terus meningkat mencapai 131.617 unit pada 2024.Laporan lain menyebut bahwa volume usaha koperasi sudah mendekati Rp 200 triliun. Potensi besar ini hanya bisa ditingkatkan apabila koperasi bergerak cepat memanfaatkan teknologi digital sebagai alat transformasi (Telkomsel, 23/9/2025).Koperasi tak lagi hanya berfungsi sebagai badan usaha, tetapi sekaligus menjadi entitas bisnis untuk menyejahterakan anggota dan komunitasnya serta penggerak ekonomi dan bisa menjadi pendukung pertumbuhan start up negeri ini.Saat dunia memasuki transformasi digital, maka koperasi sudah saatnya mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi. Melakukan transformasi digital sistemik adalah tuntutan yang tak dapat dielakan. Pilihannya adalah bertransformasi atau terdisrupsi.Penggunaan teknologi informasi sudah menyentuh layanan publik esensial secara luas. Digitalisasi tak hanya meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas, tetapi juga daya saing dan layanan terbaik organisasi koperasi.Baca juga: Endipat Wijaya Vs Ferry Irwandi: Membangun Kolaborasi, Bukan KompetisiTanpa digitalisasi, koperasi berisiko terus tertinggal dari entitas bisnis lain maupun platform digital yang menawarkan kemudahan.Teknologi pun dapat memperluas pasar, jangkauan layanan, meningkatkan kepercayaan, dan mempermudah transaksi.Melalui platform digital, produk dalam negeri juga bisa dipasarkan tanpa terhambat ruang dan waktu. Koperasi harus berada di garis depan dalam upaya membanjiri produk e-commerce dalam model bisnis seperti marketplace.Jumlah warganet Indonesia yang mencapai sekitar 230 juta jiwa, dengan dominasi generasi muda Gen Z, Milenial, dan Gen Alpha (Survey APJII 2025), adalah pasar yang sangat besar.Koperasi harus merebut pasar digital raksasa ini dari pemain asing dan mengisinya dengan produk domestik.Digitalisasi juga memungkinkan proses administrasi organisasi lebih cepat, efisien, dan akurat. Digitalisasi prasyarat untuk terus mempertahankan relevansi koperasi, dan berkompetisi.Namun, pendekatan digital harus dilakukan berbasis kebutuhan agar tepat sasaran dan dilakukan secara bertahap agar memberi manfaat besar.Efisiensi administrasi, efektivitas operasional, peningkatan daya saing, perluasan pasar, efisiensi produksi dan manajemen keuangan.Pelaporan digital memungkinkan anggota memantau aktivitas koperasi secara realtime dan mandiri, yang dapat memperkuat akuntabilitas. Transparansi digital adalah fondasi utama untuk membangun peningkatan kepercayaan publik terhadap koperasi.Aplikasi koperasi digital sebagai solusi untuk menjawab tantangan akses layanan 24/7 dengan transaksi cepat dan aman, termasuk fitur mobile, akan sangat memudahkan dan menjadi daya tarik bagi anggota.


(prf/ega)